Senin, 16 Desember 2019

3 Hal yang wajib dilakukan setelah Orang Tua meninggal

Bangun jangan lengah
tempuhlah kehidupan dengan benar
barang siapa menempuh hidup dengan benar
Ia akan berbahagia baik di kehidupan ini dan di kehidupan yang akan datang

-Buddha-

Begitulah sabda Sang Buddha agar kita semua dapat menempuh hidup ini dengan benar, menjauhi cara-cara hidup yang salah dan perbuatan yang buruk agar di kehidupan yang sekarang kita jalani kita bisa berbahagia, sebagai bekal untuk di kehidupan yang akan datang.

Setelah wafatnya kedua orang tua saya dalam 2 tahun terakhir, saya semakin giat belajar Dhamma, giat untuk menyelaminya, giat untuk mempraktekannya. Dalam tahun 2019 ini saja saya sudah mengikuti tiga kali kursus dasar Agama Buddha untuk menambah pengetahuan Dhamma dan yang terakhir saya mengikuti Kursus Dasar Dhammaduta. Mandat mendiang ibulah yang membuat saya mau menyelami dan menjadi seorang Dhammaduta. Mendiang ibu berkata kepada saya beberapa bulan sebelum beliau wafat, agar saya giat belajar Dhamma dan dapat aktif di kegiatan keagamaan. Entah mengapa tahun 2019 adalah tahun yang begitu sibuk bagi saya, hampir setiap minggu selalu ada kegiatan yang lebih banyak mengarah pada kegiatan sosial dan kerelawanan. Dan ada saya jalinan jodoh dengan orang-orang baik yang mengajak saya untuk berbuat baik, mulai dari ikut kegiatan Komunitas OTR, ikut kegiatan Tzu Chi, pendampingan anak kanker, sampai gabung ke wadah Dhammaduta Muda Dasa Paramita. 

Kadang saya menangis di tengah malam, jika ingat pada mendiang Ibu dan Ayah. Saya juga bertanya kepada diri saya, kenapa saya tidak giat mempelajari Dhamma , disaat beliau masih hidup, tentu beliau akan senang jika melihat saya seperti itu. Tetapi kemudian saya berpikir, jika saya berpikir seperti itu batinku akan semakin merosot, kemelekatan akan keluarga akan semakin membuatku menderita. Justru aku masih punya beberapa kewajiban sebagai anak meskipun kedua orang tuaku sudah tiada. Pada Sigalovada Sutta, dikatakan bahwa apabila orang tua sudah meninggal, masih ada kewajiban yang harus dilakukan seorang anak, yaitu Menjaga warisan/harta orang tua agar pantas digunakan dan tidak dihambur-hamburkan, menjaga nama baik atau kehormatan keluarga dan yang terakhir adalah giat melakukan pelimpahan jasa atau Patidana kepada Mendiang serta sanak keluarga dan para leluhur.

1. Menjaga Warisan / Harta orang tua.
Jagalah warisan / harta orang tua dengan baik, jangan dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak pantas, misalnya dihambur-hamburkan untuk kesenangan duniawi. Sebaiknya harta tersebut dijaga dan bisa digunakan untuk hal-hal yang bersifat penting dan lebih bagus jika disisakan untuk berbuat kebajikan kepada sesama, seperti berdana kepada Sangha dan Vihara.
Justru Harta yang paling berharga yang orang tua saya wariskan kepada saya bukanlah harta dalam bentuk uang atau bangunan, melainkan mendiang ayah mewariskan saya banyak buku Dhamma yang membuat saya baru tahu bahwa ayah senang membaca buku Dhamma, meskipun tidak pernah sekalipun ayah meminta saya untuk membaca buku Dhamma atau bahkan mengajari saya membaca Paritta. Ibu mewariskan saya cinta kasih yang tulus yang tidak tega melihat orang susah dan mau menolong siapapun.

2. Menjaga Kehormatan / Nama Baik Keluarga.
Seorang yang sudah tidak memiliki ayah / ibu atau keduanya, wajib menjaga nama baik atau kehormatan kedua Orang Tuanya dengan menjaga perilaku dan tata susilanya didalam pergaulan. Dan hal tersebut bisa dilakukan dengan merawat dan melaksanakan Sila. Didalam Mangala Sutta dikatakan :
VINAYO CA SUSIKKHITO / Terlatih Baik dalam Tatasusila
SUBHASITA CA YA VACA / Ramah Tamah dalam Ucapan
Maka dari itu seorang anak wajib menjaga nama baik kedua orang tuanya dengan memiliki pengendalian diri dari hal-hal buruk dan selalu berbicara yang ramah dan memilki kesopanan kepada siapa saja khususnya terhadap orang yang lebih tua.

3, Melakukan Pelimpahan Jasa / Patidana.
Seorang anak yang sudah tidak memiliki orang tua, wajib melakukan pelimpahan jasa kepada mendiang orang tuanya sebagai wujud bakti kepada mereka. Dengan harapan agar apabila orang tuanya terlahir di alam-alam rendah dapat mengetahui perbuatan baik yang dilakukan oleh si anak, sehingga orang tuanya menjadi berbahagia dan dikemudian dapat terlahir di alam-alam bahagia.
Melakukan pelimpahan jasa bisa dilakukan dimana saja dan setiap hari, Saat kita melakukan perbuatan baik, seperti berdana, pelepasan makhluk hidup dan bahkan saat membacakan Paritta suci dan bermeditasi, setelahnya kita dapat membacakan Paritta Patidana yang diarahkan kepada mendiang.

Nah, ketiga hal itu wajib dilakukan apabila salah satu atau kedua orang tua kita telah tiada. Saran saya bagi yang belum bisa melepas kepergian orang tua adalah hanya dengan melepas dan mengurangi kemelekatan kita kepada mereka, karena percuma saja kita terus menerus menangisi kepergian mereka, yang ada kita hanyalah memupuk karma buruk dan membuat mereka menjadi tidak bahagia pada kehidupan yang sedang mereka jalani. Yang hanya bisa kita lakukan hanyalah menerima karma kita dan terus melanjutkan hidup. Bangun dan jangan lelah, maksudnya adalah bangun dari kegelapan batin yang menghinggapi kita, toh pada dasarnyan semua makhluk akan mengalami kelapukan. Jangan Lengah, maksudnya adalah jangan lengah pada segala macam perbuatan buruk, baik melalui pikiran, ucapan ataupun perbuatan.

Selagi masih hidup, manfaatkanlah kehidupan kita dengan hal-hal yang baik & berguna yang membawa kita kepada kebahagiaan. Justru dengan hanya mengeluh, menyesali yang telah berlalu dan malas-malasanlah yang akan membuat batin kita tidak berkembang, malah semakin mandek !.




Sabtu, 30 November 2019

Dokter bilang usia Ibuku tinggal 3 Bulan lagi...

Halo sahabat sejati, apa kabar ?
sudah beberapa bulan ini saya tidak post cerita atau ngeblog, dan pada hari ini saya sempatkan ngeblog. mungkin 5 atau 6 bulan lebih saya tidak ngeblog karena dalam kurun waktu 6-7 bulan tersebut banyak hal terjadi dalam diri saya. Mulai saya bergabung pada barisan Tzu Chi dan mengikuti kegiatannya seperti daur ulang, bedah buku, kunjungan kasih, training relawan dan mencari donatur misi amal, membantu Baksos komunitas OTR, membantu Gempita Waisak Walubi Banten, melanjutkan aktivitas saya sebagai relawan asuhan paliatif bagi anak penyandang kanker yang sudah saya lakukan selama 2 tahun lebih, mengikuti perayaan Kathina STI Banten, membantu sebagai relawan pindapata, dan yang terakhir saya bergabung ke Wadah Dasa Paramita untuk mengisi Sekolah Minggu Buddhis. Kegiatan tersebut saya lakukan pada hari Sabtu-Minggu, dan makanya saya sampai lupa atau agak malas nulis hehe. Tapi semua kegiatan tersebut terekam dalam benak saya dan saya bahagia melakukan kegiatan itu semua.

Kali ini entah mengapa setelah saya membaca sebuah buku Dhamma karangan Ajahn Chah yang berjudul "TIDAK ADA" dan membaca beberapa bait dalam buku tersebut sangat mengetuk hati saya. Begini isi dari kata-kata dalam bait buku tersebut :
"Kalau Anda telah terlatih dengan benar, Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke Rumah Sakit untuk menjalani perawatan, tanamkan didalam pikiran jika Anda merasa lebih baik, itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda bahwa bila dokter berkata kepada saya bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, "Hati-hati, karena kematian juga akan datang menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi belakangan". Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan menggunakan obat dari Buddha ?".

Dan jadi teringat soal kata seorang Dokter Bedah Saraf yang mengoperasi mendiang ibu saya. Ibu saya bernama Lani atau sering dipanggil Meilan terdiagnosa Kanker Otak jenis Glioblastoma Multiforme (GBM) yang sudah dikategorikan Stadium akhir. Tumor Otak yang bersarang di belahan otak sebelah kiri ibu saya adalah jenis tumor ganas yang tumbuh dan menyebar begitu sangat cepat keseluruh bagian otak dalam hanya beberapa bulan. Apabila tidak diberikan perawatan medis seperti operasi dan radiasi, ibu saya hanya bertahan selama 3 bulan dan bila diberikan perawatan medis secara komplit, umurnya paling hanya bertahan selama 1 tahun, dilihat usianya sudah 50 tahun keatas sangat sulit untuk bisa bertahan hidup hingga 5 tahun.

Pertanyaan yang paling mengoyak hati saya adalah ketika sang Ibu bertanya kepada saya, Mama bisa hidup berapa lama kur ? dan saya menjawabnya dengan hati yang cukup berat, karena harus berbohong demi ketenangan dirinya, "tenang saja mah, bisa sampai 20 tahun lagi pasti".  ibuku melakukan perawatan kanker sejak Agustus 2017 dengan menggunakan asuransi kami membawanya ke salah satu Rumah Sakit terbaik di Asia, yaitu Mount Elizabeth Hospital. Selama hampir 2 bulan saya merawat ibu disana untuk berobat dan kembali pada Bulan Oktober 2017. Tekanan batin ibu sunggu berat saat berada di Singapura, disamping harus meninggalkan suaminya yang juga Ayah saya yang sedang terkapar di Rumah Sakit akibat serengan jantung mendadak, Ibu harus kuat menahan sinar Radiasi yang menghantam wajahnya selama 30 hari dan menelan pil-pil kemoterapi yang kian menggerogoti tubuhnya. Lebih-lebih akhirnya jantung ayah sudah tidak kuat untuk berdetak dan mengalami kematian tiba-tiba di kediaman kami di Tangerang pada Bulan September 2017, 2 hari setelah ayah mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibu saya. Hal tersebut sangat mengganggu pengobatan ibu, tapi mama sangat kuat dan bahkan tidak menangis ketika terakhir kali melihat jenazah papa.

Pada bulan Juli 2018, kami kembali ke Singapura untuk pengobatan rawat jalan dan memeriksa kembali kesehatan dan hasil MRI Brain Ibu saya kepada dokter tersebut. Mama yang baru saja pulang berlibur bersama keluarga ke Bali kembali harus menelan pil pahit dalam kehidupannya, bahwa setelah dokter memeriksa hasil MRI tersebut, tumor yang bersarang di otak mama semakin masif dan tidak terkendali. Saya dan Dokter berbicara dalam Bahasa Inggris dan Mama memang tidak bisa berbicara dan paham Bahasa Inggris jadi saya yang selalu menjadi penerjemah bagi mama. Dokter tersebut mengatakan "The tumor is going bad, just take your mother home and make her happy"dan juga mengatakan prognosis ibu saya hanya tinggal 3 bulan.

Sungguh berat bagi saya untuk menerima hal tersebut, terlebih bagaimana menjelaskan ke mama bahwa umurnya hanya tinggal 3 bulan ?!. Dokter onkologi saat itu juga menawarkan apakah ibu mu mau diberikan terapi radiasi lagi untuk menekan pertumbuhan sel kankernya ?. Dalam hati saya mama sudah cukup menderita menjalani terapi radiasi selama 30 hari, menelan pil kemo dan suntikan obat, dan sekarang usia mama hanya tinggal 3 bulan, akhirnya saya mengambil keputusan bersama kakak perempuan saya untuk tidak menjalani terapi radiasi tambahan tersebut dan Dokter Onkologi pun menyetujuinya dan memiliki pemahaman yang sama dengan saya. Akhirnya kami pulang ke Hotel dan ditengah perjalanan saya mengatakan ke mama, "mah ini kita sudah tidak berobat lagi di Singapura, mama sudah dikasih obat rawat jalan dan nanti bisa beli obat di Indonesia", sungguh hati saya mau menangis mengatakan itu, karena sudah tidak ada harapan bagi mama untuk mengobatinya secara ilmu kedokteran medis.

Kami pulang Ke Indonesia dan berusaha untuk mengobati penyakit mama dengan segala macam cara, mulai terapi herbal, saya banyak menanam daun belalai gajah, membeli melalui online bibit daunnya dan sampai meminta-minta ke rumah orang untuk daun-daun herbal tersebut. Mama juga termasuk orang yang rajin bermeditasi sewaktu masih sehat, dan pada saat terkena kanker pun masih rajin bermeditasi untuk ketenangan batinnya. Atas informasi seorang dokter, Mama berobat ke seorang dokter papua yang dipercaya mampu mengobati penyakit-penyakit kritis dan yang terakhir mama diobati dengan helm anti kanker yang juga dipercaya mampu memperkecil tumor. Namun kondisi mama tetap tidak membaik dan berangsur-angsur saraf motoriknya semakin tidak merespon, mulai sulit berjalan, sulit bicara dan pada akhirnya mama menghembuskan nafas terakhirnya pada Pagi Subuh tgl 3 November 2018.

Tentunya selama mama sakit, kami sebagai anak sudah mengusahakan cara-cara baik medis, penguatan spiritual, dan psikososial. Doa paritta suci telah diuncarkan, mengundang para Bhikkhu dan juga memberikan persembahan kepada para Bhikkhu saat mama masih bisa bicara dan saat-saat terakhir mama terbaring di ICU pun, para Bhikkhu bersedia untuk datang menguncarkan Paritta suci untuk kesembuhan mama. Tapi kami harus bisa menerima itu semua, terlebih mama juga semoga bisa menerima apa yang dialaminya. Segala sesuatu hanyalah sebuah fenomena sebab dan akibat, apabila kita bisa mengerti itu hanyalah sebuah sebab dan hasil dari sebab, maka penderitaan bisa kita atasi. Jadi kematian hanyalah sebuah proses dari kehidupan ini, saya juga sering menjelaskan ke mendiang papa dan mama, saya ceritakan kisah-kisah saya bekerja sebagai Relawan Asuhan Paliatif bagi para anak-anak yang terkena kanker di usia yang masih dini agar mereka bisa lebih kuat menghadapi penyakitnya, bahwa penyakit fisik tidak bisa kita hindari, tetapi yang terpenting adalah batin ini harus bisa tenang dan menerima menghadapi segala perubahan dari kondisi fisik agar kehidupan bisa berkualitas.

Saya bersedih ketika kedua orang tua meninggal dan saya harus mulai dewasa berdiri di kaki sendiri tanpa ada sokongan dan nasehat dari orang tua. Awalnya saya begitu bersedih kehilangan mereka, tapi kian hari saya semakin giat mempelajari Dhamma, saya mengerti bahwa kelahiran dan kematian adalah satu hal yang sama. Ajahn Chan berkata "Kelahiran dan Kematian adalah satu hal, Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; Bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini ?"

Jadi pada awalnya perasaan sedih kehilangan orang tua begitu tinggi pada diri saya, penyesalan mendalam atas kematian mereka selalu muncul dalam pikiran saya. Saya menyadari itu Normal, itu datang sari suatu sebab, apakah sebab itu ? saya belum bisa menerima, saya masih menyalahkan diri sendiri, saya kurang ini kurang itu, saya suka marah, saya telat mempelajari Dhamma, lalu saya menyadari kalau saya begini terus batin saya akan semakin merosot, bukankah itu tidak baik bagi kemajuan batin saya ?

Akhirnya saya mulai rajin membaca buku Dhamma, rajin baca Paritta, rajin pergi ke vihara, saya lakukan banyak perbuatan baik yang ditujukan untuk mendiang dan masih terus melanjutkan kegiatan sosial kerelawanan hingga hari ini. Saya berserah diri dengan menerima legowo apapun yang terjadi pada diri saya, itu adalah hasil perbuatan saya, hasil dari karma. Saya tidak bersedih lagi atas kematian orang tua, namun sebagai wujud bakti kepada mendiang orang tua, sesuai Sigalovada Sutta saya harus menjaga warisan dengan baik, berperilaku baik, melakukan pelimpahan jasa bagi beliau dan menjaga nama baik keluarga, lebih sadar, bisa menerima dan melihat segala sesuatu sebagaimana mestinya dan yang paling penting adalah saya mengusahakan hidup saya dengan baik pada saat ini agar setiap hal pada masa lampau menjadi mimpi cemerlang dan setiap hari mendatang menjadi angan-angan yang gemilang, hiduplah hari ini dengan sebaik-baiknya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kemajuan batin kita.

Yosep Cahyadi / Kurnia

Semoga semua makhluk berbahagia
Idam vo nati nan hotu Sukhita hontu natayo. Sadhu! Sadhu! Sadhu!

Rabu, 01 Mei 2019

Kunjungan Kasih OTR ke Panti Asuhan Bhakti Luhur

Kali ini saya ingin membagikan cerita saya menghabiskan kegiatan di hari rabu pagi hingga sore pada tanggal 1 Mei 2019 yang kebetulan tanggal merah karena hari buruh. Kali ini komunitas OTR berkesempatan untuk melakukan kunjungan kasih ke Panti Asuhan Bhakti Luhur di daerah citra raya Tangerang. Panti Asuhan tersebut adalah panti asuhan dan juga sekolah untuk anak berkebutuhan khusus antara lain, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, anak yang memiliki autis dan kesulitan belajar. Kunjungan kasih tersebut bertujuan selain untuk memberikan bantuan berupa bahan makanan dan kebutuhan lainnya yang dibutuhkan oleh panti, makan siang bersama anak-anak panti, kami para relawan OTR dan donatur juga datang untuk menghibur anak-anak berkebutuhan khusus.



 Tim OTR dipandu cie Ayu menghibur anak-anak panti 


Kita juga mengajak anak-anak panti untuk bernyanyi bersama




Terakhir selesai kegiatan kami berfoto bersama, anak-anak panti asuhan Bhakti Luhur sangat senang dengan kedatangan kami lohh, semoga dikesempatan berikutnya kami bisa mengunjungi kalian lagi ya adik-adik!.

Foto bersama TIM Baksos OTR

Ya itulah sedikit cerita kegiatan saya di hari rabu pagi yang kebetulan hari libur, dari foto yang saya tampilkan kelihatannya sudah cukup menggambarkan kegiatan apa saja ya yang kami lakukan, tetapi sebetulnya foto-foto tersebut menggambarkan arti yang luas apabila kita mau menyerapkan kedalam lubuk hati. Tentu anak-anak tersebut tidak pernah menginginkan dilahirkan dalam keadaan demikian, jika mereka bisa berpikir secara normal mereka tentu tidak mau menjadi seperti itu. Namun akibat keterbatasan cara kerja otak yang menghambat tumbuh kembang mereka, sehingga mereka hidup dalam keterbatasan dan harus bersekolah di sekolah khusus. Setelah saya mengikuti kegiatan kunjungan kasih di panti asuhan Bhakti Luhur, saya semakin menyadari untuk tidak berhenti mensyukuri hidup setiap hari, setiap detik dalam hidup ini. Ada orang - orang yang lahir dalam keterbatasan, namun apa yang harus dipermasalahkan ?, semua manusia juga hidup dalam keterbatasan, hanya apakah kita mau mementingkan ego kita sendiri atau ikut berkontribusi untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan.Tentu siapa yang mau lahir dalam keadaan demikian, saya melihat ada relawan yang membawa cucu mereka ikut kunjungan kasih tadi pagi dan mereka berumur sekitar 6 atau 7 tahun sama dengan sebagian anak - anak yang ada di panti, Namun mereka terlahir dalam keadaan sehat dan normal, mereka bisa berlari-lari tanpa harus ditemani perawat. Kemudian saya berpikir bahwa sungguh saya sangat bersyukur / gan en bahwa saya dilahirkan dalam keadaan sehat dan normal, tetapi justru karena saya bersyukur, sikap empati terhadap sesama kemudian muncul dan saya berusaha untuk ikut menghibur anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan Bhakti Luhur, berusaha untuk tidak jaim dan memanfaatkan waktu yang singkat untuk menghibur mereka, meskipun terkadang candaan dan goyangan saya sebetulnya agak garing, yaa walaupun begitu setidaknya saya sudah berusaha untuk membuat mereka bergembira pada hari itu.

Anak-anak berkebutuhan khusus tersebut sungguh bergembira saat kami hibur, entah hiburan kami lucu atau tidak, mereka tetap tersenyum tanpa syarat, senyum dan tawa mereka tulus dan tidak mengisyaratkan apapun. Berbeda ada sebagian orang bisa tersenyum, namun senyum mereka memiliki maksud tertentu, bahagia mereka memiliki maksud tertentu, mungkin ada yang tersenyum atau senang hanya karena menuruti saja atau hanya karena merasa tidak enak. dua hal yang saya pelajari dari anak-anak abk tersebut adalah "Ketulusan yang benar-benar dari hati dan tidak mengharapkan imbalan" dan juga penerimaan atas kondisi kehidupan yang mereka alami, memang mungkin mereka tidak mengerti atas kondisi yang mereka alami, tetapi setidaknya mereka toh masih bisa bersosialisasi dengan cara mereka sendiri tanpa harus merasa malu dengan kondisi mereka -  "Bersyukur dan menerima kehidupan atau berusaha untuk tidak melekat atau bebas dari upadana.

"Banyak sekali penyakit dalam kehidupan ini : kondisi tubuh yang tidak selaras, ketidakakuran dalam keluarga, serta gejolak dan ketidaknyamanan dalam masyarakat" - Master Cheng Yen.

"Bila kita ingin memupuk cinta kasih yang murni, jangan biarkan perasaan "ingin memiliki" dan "takut kehilangan" menguasai hati kita. Jika kita tidak mengharapkan imbalan, maka tidak akan timbul kerisauan" - Master Cheng Yen.

Semoga 2 kata perenungan dari master Cheng Yen tersebut dapat mencerahkan kita semua. 

Dengan penuh pikiran cinta kasih
Mettacitena

Semoga semua makhluk berbahagia,

Kurnia Yosep Cahyadi




Menjadi Relawan Tzu Chi

Tanggal 28 April 2019 kemarin saya mengikuti training Abu Putih di yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Pantai Indah Kapuk. Training relawan AP tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan bagi para relawan Tzu Chi tentang hal - hal yang berhubungan dengan visi dan misi tzu chi. Untuk mewujudkan Visi dan Misi Tzu Chi maka para relawan perlu dibekali beberapa pengetahuan seperti pengetahuan tentang manajemen organisasi di Yayasan Buddha Tzu Chi, tugas - tugas relawan Tzu Chi, Budaya Humanis, menggalang hati dan menggalang dana.

Seperti diketahui bahwa Tzu Chi memiliki visi untuk menyucikan hati manusia, mewujudkan masyarakat yang aman dan tenteram (harmonis), serta dunia terhindar dari bencana. Cita - cita ini hanya akan dapat tercapai dengan menumbuhkan cinta kasih di dalam diri setiap orang. Inilah yang dilakukan Tzu Chi dengan menjalankan 4 misi utama, 8 jejak Dharma, yaitu :
1. Misi amal
2. Misi kesehatan
3. Misi Pendidikan
4. Misi budaya kemanusiaan
5. Bantuan bencana internasional
6. Donor sumsum tulang
7. Pelestarian lingkungan
8. Relawan Komunitas
(www.tzuchi.or.id)

Banyak yang saya pelajari ketika mengikuti training abu putih pada saat itu mulai dari sejarah didirikannya yayasan Buddha Tzu Chi oleh shang ren (master) Cheng Yen pada tahun 1966 sampai dengan menjadi yayasan yang sangat besar dan melayani masyarakat yang membutuhkan di 94 negara di Dunia, saya belajar mengenai tahapan-tahapan menjadi relawan yang baik dan sesuai prosedur, belajar menggalang hati dan dana untuk mewujudkan visi dan misi Tzu Chi, dan yang paling saya sukai adalah materi Budaya Humanis yang mengajarkan kita untuk bertata susila dengan baik dan mulia di dalam kehidupan bermasyarakat dari mulai hal kecil hingga besar. Semua pelatihan tersebut membuat saya semakin bersyukur dan sangat bersyukur, saya sangat Gan En dari hati yang paling dalam karena hidup saya dapat mengenal Tzu Chi. Tzu Chi mengajarkan saya untuk hidup lebih bersyukur dengan segala keadaan yang saya miliki, Tzu Chi mengajarkan saya untuk berperilaku sesuai dengan etika dan tata kesusilaan yang luhur, Tzu Chi mengajarkan saya untuk menghargai sebutir nasi yang didapat dan diproses melalui serangkaian kegiatan yang tidak sedikit. Dan terlebih saya sangat bersyukur karena dapat menjadi manusia yang tentunya dapat bermanfaat bagi sesama.

Lalu bagaimana saya bisa terdampar di Tzu Chi ? hehe saya tidak terdampar sih, hati saya yang memang ingin berada di Tzu Chi sebagai relawan, bukan karena ajakan orang dan bukan karena ikut-ikutan. Saya memang dulu pernah ke kantor Daai TV di mangga Dua kalau tidak salah sewaktu masih bekerja sebagai sales representative selepas kuliah pada kurun waktu 2012 - 2014. Selepas ke kantor DAAI TV tersebut saya sempat terpikir untuk mendaftar menjadi relawan, tetapi karena pekerjaan yang cukup menyita waktu, maka niat menjadi relawan itu mulai terlupa dalam diri saya. Itulah awal mula saya pertama kali ke yayasan Buddha Tzu Chi, tentu sebelumnya saya sudah sering meneteskan air mata akibat menonton drama Tzu Chi bersama keluarga di rumah. Lalu keinginan menjadi relawan Tzu Chi sebetulnya datang pada saat saya sedang di rumah sakit menjaga mendiang ibu yang sedang terkapar melawan kanker, saya sedang menonton Daai TV yang sedang menyiarkan sebuah iklan donasi untuk Gempa Palu yang terjadi pada tanggal 28 September 2018. Saya melihat banyak orang menggalang donasi untuk palu, dan saya berpikir bahwa saya mau menyumbang ke yayasan Buddha Tzu Chi untuk gempa palu, lalu saya lihat instagram Yayasan Buddha Tzu Chi dan memang donasi sudah mulai digalakkan, dan saya langsung menyumbang melalui transfer rekening ke yayasan untuk donasi bencana alam. Akhirnya sejak saat itu saya mulai searching-searching kembali bagaimana cara menjadi relawan Tzu Chi selepas kepergian ibu tercinta pada bulan awal november 2018 dan sempat berniat untuk menghubungi kantor yayasan Buddha Tzu Chi kantor penghubung Tangerang - Kantor Pinangsia. Belum sempat saya mengubungi yayasan, saya bertemu seorang relawan Tzu Chi saat mengikuti kegiatan spiritual bersama komunitas OTR di Vihara Namhai Sukabumi pada pertengahan bulan Desember 2018, akhirnya saya berkenalan dengan Sx. Antony Tanoto dan mulai sejak itu Sx. Antony mengabari saya untuk mengikuti kegiatan sosial Tzu Chi dan berkenalan dengan relawan-relawan Tzu Chi lainnya dan kebetulan saya bertemu dengan relawan yang kebanyakan usianya sudah sepuh hehe, saya sangat menghormati mereka seperti saya menghormat kepada orang tua saya. Saya mulai mengikuti Volunteer gathering, ikut baksos pengobatan, ikut kegiatan donor darah sebagai relawan pembantu, lalu ikut sosialisasi 2 jam dan sampai akhirnya saya mengikuti pelatihan abu putih untuk dikukuhkan menjadi relawan abu putih pada tanggal 28 Mei 2019 lalu.

Semoga setelah saya mengikuti pelatihan abu putih tersebut membuat saya semakin bersemangat menjadi relawan Tzu Chi dan dapat menjalankan kewajiban sebagai relawan dengan sebaik-baiknya. Semoga saya dapat lebih aktif mengikuti kegiatan Tzu Chi. Relawan adalah seorang yang bersukarela dari hati untuk menolong orang lain, semoga saya tidak lupa tujuan saya untuk menjadi relawan, untuk membagikan kebahagiaan, untuk mengikis penderitaan orang yang ditolong. Saya jadi teringat kata-kata dari lao shi yang mengajarkan budaya humanis saat pelatihan, yaitu bahwa insan Tzu Chi adalah orang yang memberikan kebahagiaan, mencabut penderitaan, dan kita harus Gan En kepada Gan En Fu. Gan En Fu adalah orang yang menerima bantuan dan mau menerima bantuan, maka itu kita harus berterima kasih kepada Gan En Fu, karena telah diberikan kesempatan untuk berbuat baik dan bantuan kita diterima olehnya.

Jadi inilah sekilas cerita saya saat mengkuti pelatihan Abu Putih di Yayasan Buddha Tzu Chi Pusat, cerita ini saya buat hanya sebagai pengingat bagi diri saya kelak untuk tidak lupa diri, untuk dapat menjaga diri, menjaga pikiran, ucapan dan perbuatan, menjaga budaya humanis agar tetap tertanam pada diri saya (Bersyukur, Menghormati, Mencintai), dan selalu mengingat bahwa saya adalah relawan, entah sebagai relawan Tzu Chi atau relawan lainnya untuk dapat membantu dengan sebaik-baiknya, dengan tulus, dengan penuh cinta kasih dan welas asih.
Bersama teman-teman relawan Tzu Chi dari Tangerang


sebagai penutup, inilah beberapa kata perenungan dari master Cheng Yen

"Perasaan bersyukur harus ditunjukkan dalam tindakan nyata"

"Segala perbuatan harus dimulai dari sebuah tekad, bagaikan menanam sebatang pohon yang berawal dari sebutir benih"

"Seseorang harus menyalakan pelita di dalam hatinya sendiri terlebih dahulu, baru dapat menyalakan pelita di dalam hati orang lain"



Jiayou ! Gan En
Semoga semua makhluk berbahagia

Kurnia Yosep Cahyadi

Senin, 29 April 2019

Ikut Volunteer Gathering Pita Kuning

halo teman-teman, kali ini aku ingin membagikan sedikit cerita loh, ceritanya begini jadi pada tanggal 27 April 2019 lalu aku mengikuti sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (YPKAI), kegiatan tersebut bernama Volunteer Gathering Pita Kuning, yaitu yang bertujuan sebagai pertemuan para Volunteer atau relawan pendampingan / asuhan paliatif kanker dibawah naungan YPKAI. Aku sendiri mulai bertugas sebagai relawan sejak 21 Juni 2017 (Batch 5) dan hingga sekarang aku sedang mendampingi anak Pita Kuning yang ke-3, yaitu Yoga Rivaldi untuk periode Maret - Juni 2019.

Nah untuk event yang kali ini adalah keikutsertaanku yang pertama kali pada volunteer gathering, makanya ini hal yang menurutku spesial untuk ditulis kedalam blog. Volunteer Gathering mulai dari pukul 10.00, tetapi aku baru datang sekitar pukul 11.00, karena paginya aku masih harus membereskan urusan pekerjaan yang belum selesai. Tempat pelaksanaan volunteer gathering juga lumayan memakan waktu, yakni sekitar 1 jam menggunakan motor dari Tangerang menuju RPTRA Borobudur yang berada di kawasan menteng, tepatnya bersebelahan dengan kampus pascasarjana Universitas Pancasila. Sepanjang perjalanan dari Tangerang menuju Grogol aku dihampiri dengan kemacetan, padahal itu hari sabtu loh, dan sesampainya di kawasan menteng aku mataku mulai tertegun hehe, karena banyak gedung-gedung besar megah mengelilingi jalanan ibu kota terlebih pada saat melewati Stasiun Cikini yang bangunannya lumayan kuno.

Akhirnya aku tiba juga di RPTRA Borobudur tempat dilaksanakannya volunteer gathering Pita Kuning, sampai disana aku mengisi absen dan langsung duduk di bagian depan (karena hanya itu yang masih kosong hehe) untuk mendengarkan presentasi dari kak Devita, koordinator relawan. Banyak yang kuserap dari presentasi tersebut terutama mengenai sistem manajemen kerelawanan di Pita Kuning. Selesai presentasi kami langsung dibagi kelompok sesuai dengan anak dampingan dan kakak peksos (pekerja sosial). Saya dan beberapa teman yang lain memiliki satu peksos yang sama tetapi berbeda adik dampingan, dan kami saling sharing mengenai cerita saat pendampingan, mulai dari kegiatan yang dilakukan, kondisi anak dampingan, kondisi ekonomi keluarga anak dampingan, hal-hal yang menyenangkan dan menggagumkan mengenai perjuangan dan kedewasaan si anak dampingan dalam menghadapi penyakitnya sampai dengan cerita yang membuat berlinang air mata, yakni kematian anak dampingan. 

Selesai kami berbincang  untuk saling bertukar pikiran dengan kak rizki (peksos) dan makan siang, lalu tiba saat yang paling menarik, tak terlupakan, mengesankan dan membekas di hati, yakni kami diajak bermain dengan Komunitas TGR atau yang disebut Traditional Games Return. Apakah itu TGR, yaitu sebuah komunitas yang berusaha untuk membangkitkan kembali mainan-mainan tradisional Indonesia. Awalnya kami mulai diajak bermain yang melatih keseimbangan kerja otak kiri dan kanan, diajak mengulang kata-kata dan memaikan kode-kode gerakan yang membuat banyak dari kami kebingungan karena tidak sinkron.


Kemudian kami diajak bermain mainan tradisional seperti balap karung, jalan bakiak, gasing tradisional, main engklek, enggrang batok, catur jawa, congklak, dan yang paling menarik menurutku adalah Rangku Alu atau Tari Tongkat, dimana permainan tersebut dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama bertugas untuk memainkan bambu dan bernyanyi lagu-lagu tradisional dan kelompok kedua bertugas untuk menari sembari menghindari jepitan bambu dan penari akan masuk dalam bidang persegi dan melompat-lompat sesuai irama buka tutup bambu. 

Rangku Alu (Tari Tongkat)
Senangnya main mainan tradisional
Gasing Bambu
Main Congklak
Jalan Bakiak
Catur Jawa (Baru tahu kan kalo Indonesia punya permainan catur sendiri)

Gimana, serukan bermain permainan tradisional !, TGR juga punya slogan loh, yaitu "Lupakan Gadgetmu, Ayo main di luar", jika kalian mau lebih tahu tentang permainan tradisional, kalian bisa follow IG dari TGR, yaitu di @tgrcampaign dan membeli mainan tradisional tersebut di @tgrstore.id. Selesai bermain tradisional ini juga jadi pelajaran buat kami yang hadir pada waktu itu, bahwa untuk sejenak kami melupakan gadget kami dan bermain permainan tradisional untuk mengingat-ingat masa kecil kami, saya juga teringat kalo dulu waktu sd pernah bermain benteng-bentengan bersama teman-teman dan waktu itu memang belum ada gadget jadi kami pastinya harus main diluar bersama teman-teman. Memang berbeda sekali di jaman yang serba modern saat ini kita lihat anak-anak yang masih balita sudah mengenal gadget dan kalau tidak diberi gadget bisa ada yang menangis. Sungguh ironis sebetulnya dengan mudahnya orang tua memberikan anaknya gadget ketika tidak mau makan atau hanya sekedar untuk mendiamkan anaknya, namun tidak diberikan pendidikan sosial dan karakter yang bisa didapat dari permainan tradisional ini. Menurut saya permainan tradisional melatih kita untuk mau tidak mau tidak menjadi pribadi yang JAIM hehe atau alias antipati terhadap sosial, ya dalam permainan tradisional kita harus berkomunikasi dan berkerja sama agar permainan bisa menjadi suatu permainan yang menarik untuk dimainkan. Permainan tradisional mengajarkan kita untuk berani bersosialisasi, melatih kecerdasan berpikir yang tentunya bagi anak usia dini sangat penting, dan yang paling penting dari permainan tradisional itu adalah adanya "PENDIDIKAN KARAKTER", karena anak dapat bisa lebih menyatu dengan alam dan bertemu dengan teman-teman baru secara "NYATA", hal itu menurut saya bisa memberikan karakter saling menghargai dan menghormati orang lain,  mengembangkan empati, sadar dan taat pada peraturan, kedisiplinan, kemampuan anak menyesuaikan diri ditengah pergaulan, dan terutama permainan tradisional dapat membantu untuk mengontrol emosi dan kepekaan sosial si anak. Lain halnya apabila si anak hanya menghabiskan waktu bermain dengan gadget sepanjang hari, disana tidak ada interaksi sosial sehingga bisa menumbuhkan sikap antipati kepada si anak atau sikap acuh tak acuh / masa bodoh, dia mungkin bisa menjadi orang yang pintar secara intelegensi (IQ), namun tidak pandai dalam hal kecerdasan emosi (EQ). Dan justru berdasarkan penelitian dari para psikolog bahwa IQ hanya berperan 10 % dan paling banyak 25 % sebagai penentu kesuksesan seseorang, sisanya tergantung faktor lain, termasuk EQ.



PILIH YANG MANA ?
GADGET VS PERMAINAN TRADISIONAL

JAWABANNYA : HARUS DIIMBANGI



Tentu di zaman yang sudah maju tidak mungkin kita bisa lepas dari yang namanya gadget, bahkan anak-anak kecil balita sudah bisa menggunakan gadget dengan mudahnya, tetapi harusnya permainan tradisional itu pun jangan ditinggalkan, karena permainan tradisional dapat membentuk karakter  dan perilaku yang sudah diuraikan diatas.

Jadi itulah sekilas cerita saya pada hari sabtu pagi hingga menjelang sore, yaitu mendapatkan pelatihan kerelawanan dan bermain permainan tradisional yang menyenangkan. Teman-teman yang ingin menjadi relawan pendampingan anak kanker, jangan ragu untuk segera mendaftar di bach berikutnya, kalian tentu harus mengikuti training relawan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai palliative care dan kanker agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Segera daftar ya di pitakuning.or.id atau bisa mencari informasinya di indorelawan.org. Menjadi relawan adalah berusaha untuk hidup sebaik-baiknya, berusaha untuk menjadi manusia sesungguhnya, berusaha untuk mengembangkan cinta kasih pada diri kita dan sesama, dan tentunya menjadi relawan adalah suatu berkah karena bisa bersumbangsih baik melalui nilai material maupun immaterial.
Volunteer Gathering Pita Kuning - 27 April 2019
BATCH 1 - 10

Senangnya dapat berbagi, karena dengan berbagi, hidup ini penuh dengan cinta kasih


Kurnia Yosep Cahyadi


nb : foto bersumber dari komunitas Traditional Games Return (TGR) dan google.com.








Kamis, 25 April 2019

Kesehatan Jasmani dan Kecencerungan Kriminal

Kesehatan Jasmani dan Kecenderungan Kriminal 
dikutip dalam buku "Bagaimana Mengatasi Kesulitan Anda"
Karangan Ven.K.Sri Dhammananda

Pada kesempatan kali ini ada suatu tulisan dalam buku yang menurut saya menarik untuk dibahas, buku tersebut berjudul "Bagaimana Mengatasi Kesulitan Anda" karangan Ven.K.sri Dhammananda yang salah satu topiknya berjudul "Kesehatan Jasmani dan Kecenderungan Kriminal" (Hal.7). Topik yang sederhana ini hanyalah mengenai kesehatan batin, tapi memiliki pengaruh yang besar terhadap seluruh aspek kehidupan, silahkan disimak dibawah ini artikel singkat namun menarik untuk dipahami :


Dalam hubungannya dengan kesehatan, yang paling mengkhawatirkan di antara berbagai macam penyakit di zaman sekarang ini bukanlah TBC ataupun kanker. Saat ini TBC hampir tidak menjadi masalah dan mungkin tidak lama lagi ada harapan untuk menyelamatkan penyakit kanker. Yang mengkhawatirkan pada zaman sekarang ini adalah meningkatnya jumlah penderita yang disebabkan oleh ketegangan jiwa (gangguan kejiawaan).



Sehingga kita dipaksa untuk membuat lebih banyak rumah sakit dan lembaga - lembaga untuk para penderita gangguan kejiwaan dan berbagai macam gangguan saraf. Masih banyak lagi orang yang tidak menerima pengobatan walaupun sesungguhnya sangat membutuhkannya.

Hal itu mungkin dapat menjelaskan mengapa unsur kejahatan di dalam masyarakat disebutkan sebagai penderita gangguan jiwa. salah satu hasil yang telah dicapai sejauh ini berdasarkan hasil penyelidikan Freud adalah diketahuinya bahwa para pelaku kejahatan dan kenakalan merupakan orang - orang yang sakit jiwa, mereka lebih membutuhkan perawatan daripada sekedar hukuman. Hal ini merupakan pandangan secara terpisah pada persoalan kemasyarakatan yang maju dan membuka jalan untuk memperbaikinya, bukannya malah membalas dendam.



Video diatas bisa sebagai pelengkap bahwa sesungguhnya orang-orang yang memiliki gangguan jiwa itu bukan harus dijauhi, justru malah sebaliknya, kita harus memiliki empati kepada mereka karena adanya metta atau cinta kasih kepada semua makhluk hidup. Justru ketika kita melihat orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan jiwa, seperti stress atau depresi, harusnya orang tersebut diberikan dukungan dan pengertian tetapi bukan dijauhi. Karena gangguan jiwa yang berkepanjangan dapat memungkinkan adanya kecenderungan tindak kriminal (berdasarkan penelitian). Harusnya kita merasa iba atau kasihan, jika melihat teman kita melakukan tindak kejahatan atau misalkan saja melakukan pelanggaran pancasila Buddhis, karena adanya hukum alam atau hukum karma yang akan diterimanya dari perbuatan buruk itu. 

Maka itu jika kita melihat adanya tindakan-tindaka buruk atau bersifat kejahatan, bukan dilawan dengan kebencian, bukan ingin menghancurkan, bukan ingin melenyapkan, tetapi berusaha untuk memperbaiki mereka dengan kasih sayang (Bhante Pannavaro).



Semoga artikel diatas bermanfaat, masih banyak topik-topik yang akan dipublish dari buku "Bagaimana Mengatasi Kesulitan Anda" oleh Ven.K.Sri Dhammananda terbitan Yayasan Dhammadipa Arama.

sabbe satta bhavantu sukhitatta
"Semoga Semua Makhluk Berbahagia"

Mettacitena

Upasaka Kurnia Yosep Cahyadi "Candavamso"

Rabu, 17 April 2019

Membudayakan Demokrasi yang Dewasa "Secercah Pandangan"

17 April 2019

17 April 2019 merupakan pesta demokrasi terbesar di Indonesia. Sebagai seorang warga negara yang baik tentunya kita dituntut untuk menggunakan hak pilih kita secara bijaksana. Kita tentu memiliki pilihan yang berbeda-beda, sebab tentu pemahaman dan pengetahuan yang kita miliki terhadap calon-calon pemimpin bangsa juga berbeda-beda, tidak ada yang sama persis. Para calon pemimpin bangsa tentu merupakan kader-kader dari partai yang berkiprah di dunia legislatif pemerintahan. Mereka memiliki segudang gelar pendidikan yang mudah-mudahan ilmu pengetahuannya bisa diaplikasikan untuk kemajuan bangsa.

Saya menulis secercah pandangan ini pada pukul 15.30 pada saat perhitungan quick count pemilihan presiden. Dengan bersifat netral tanpa berpihak pada salah satu pasangan, kita selayaknya mendukung siapapun yang nantinya terpilih untuk memimpin bangsa ini. Indonesia sudah selayaknya berdemokrasi secara dewasa. Pada mimbar agama Buddha yang disiarkan TVRI 20 Maret 2019, Bhikkhu Saccadhammo, Padesanayaka NTT, menyampaikan bahwa Pemilu adalah pesta demokrasi, pesta gembira dimana masing - masing warga negara mengekspresikan haknya dalam kegembiraan dengan memberikan suaranya untuk turut serta menentukan arah dan masa depan bangsanya. Kegembiraan ini kegembiraan yang dewasa, yang bermartabat, yang mengedepankan cara-cara damai dalam rangka membangun peradaban tertib dan harmonis dalam perbedaan, bukan kegembiraan semu yang mengacaukan, merusak tatanan adab yang merugikan orang lain atau kelompok lain, apalagi merusak martabat bangsa. Pemilu adalah kegembiraan yang dewasa. Yang bertujuan baik untuk membangun keadilan sosial, kesejahteraan, keharmonisan dan kedamaian bernegara bahkan dunia.

Seperti yang bhante Saccadhammo utarakan, bahwa kita sepatutnya bergembira menyambut pesta demokrasi ini secara dewasa, tanpa isu-isu hoax yang saling menuding yang dapat membuat perpecahan bangsa ini. Indonesia harus menjadi bangsa yang lebih beradab, meskipun saya masih melihat adanya pemberitaan mengenai money politics atau politik uang dikalangan masyarakat khusunya kelas menengah kebawah yang menurut saya itu tidak mencerdaskan bangsa dan malah membodohi para generasi muda yang kedepannya menjadi tulang punggung bangsa ini.

Bagi saya siapapun yang terpilih, tidak menjadi persoalan, karena seharusnya apabila bangsa ini sudah menyelenggarakan pemilu yang beradab, pemilu yang jujur, pemilu yang adil, pemilu yang berlandaskan sifat-sifat kenegarawan, yaitu saling menghormati dan menghargai, sesunggunya kita semua sudah menjadi pemenang. Menang dari ego kita yang ingin menguasai amanat masyarakat hanya demi kepentingan ambisi individu. Kita sebagai warna negara sudah menjalankan kewajiban kita untuk memilih dan tidak menjadi golput, sekarang tugas kita adalah menjaga batin kita agar tidak terpancing oleh isu-isu negatif yang kita peroleh dari media informasi digital dan tidak berusaha untuk menyebar isu-isu negatif tersebut yang bisa diklasifikasikan sebagai berita yang belum valid. Indonesia adalah negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara, maka sudah sepatutnya kita Warga Negaranya sadar dan mengikuti jalannya Pemilu dengan tertib dan tidak terpancing oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya.

Indonesia masih berjuang untuk memberantas kemiskinan, Indonesia masih berjuang untuk menyalakan lampu dan menyediakan air seluruh desa dari sabang sampai merauke, Indonesia masih berusaha untuk meningkatkan angka literasi, Indonesia masih berusaha untuk menurunkan tingkat kematian ibu dan balita, untuk itu pemilu ini sangatlah vital untuk menentukan kemajuan suatu bangsa, dan kemajuan suatu bangsa tentu dimulai dari keberadaban warga negaranya. Semoga para pemimpin bangsa kelak dapat menjadi pemimpin yang beradab, bersahaja dan bijaksana dalam memimpin bangsa Indonesia.

Sadhu sadhu sadhu




Perubahan Hidup

Hidup terus berubah, sadar atau tidak disadari, ingin atau tidak diinginkan, harap atau tidak diharapkan....Hidup terus berlanjut, hidup terus berputar, seiring dengan hukum perubahan yang mengaturnya. Aku yang dulu tentu berbeda dengan aku yang sekarang. sederhananya jika dilihat secara biologis saja sudah pasti ada perbedaan. Itulah perubahan hidup yang sederhana, ada lagi perubahan yang jauh lebih bermakna selain melihat tumbuh kembangnya tubuh ini adalah perubahan sikap mental dan spiritual yang menopang batin ini agar terbebas dari penderitaan. Sejatinya manusia selalu menginginkan yang indah-indah, yang enak-enak, tidak menginginkan kesedihan datang dan malah berusaha menutupi perubahan kehidupan yang berkonteks negatif dengan kesenangan duniawi. Kamaraga atau nafsu indrawi menghampirinya tiada henti dan tidak mau bertemu dengan yang menderita atau Dukkha. Sesungguhnya jika kita berlaku seperti itu sebelum penderitaan datang, sebetulnya kita sudah menderita.

Bhante Sri Pannavaro pernah mengatakan bahwa untuk menutupi atau menghapus penderitaan bukan menambalnya dengan kesenangan atau kebahagiaan, namun dengan kita mengurangi penderitaan sedikit demi sedikit, maka kebahagiaan sejatinya akan datang karena pupusnya penderitaan itu. Kebahagiaan itu tidaklah kekal, kita harus mencari tahu akar penderitaan itu dan bukan memupuk akar itu dengan pupuk kebahagiaan yang akan terus berkeliaran dalam lubang samsara, tetapi pupuklah akar itu dengan pengertian yang benar. Dengan pengertian yang benar akan muncul Panna atau kebijaksanaan, dan apabila juga ditopang dengan pelaksanaan sila yang baik, maka penderitaan itu akan dengan sendirinya lenyap tanpa harus diminta.

Dalam Dhammapada ayat 277 - 279 yang saya renungi setiap saat, sejak ditinggal oleh mendiang ibu dan ayah, ini membuat saya semakin berusaha untuk memahami dhamma dengan sebaik-baiknya, saya tentunya tidak ingin membuat sia-sia telah dibesarkan oleh ayah dan ibu.

Semua yang merupakan perpaduan unsur tidaklah kekal
Orang yang memakluminya melalui kebijaksanaan,
Dia dapat mengatasi penderitaan
Inilah jalan menuju kemurnian sejati.

Semua yang merupakan perpaduan unsur tidaklah memuaskan.
Orang yang memakluminya melalui kebijaksanaan,
Dia dapat mengatasi penderitaan
Inilah jalan menuju kemurnian sejati.

Semua yang merupakan perpaduan unsur tak mempunyai diri.
Orang yang memakluminya melalui kebijaksanaan,
Dia dapat mengatasi penderitaan
Inilah jalan menuju kemurnian sejati.

dalam bahasa pali :

"Sabbe sankhara anicca" ti
yada pannaya
passati
atha nibbindati dukkhe
esa maggo visuddhiya.
"Sabbe sankhara dukkha" ti
yada pannaya passati
atha nibbindati dukkhe
esa maggo visuddhiya.
"Sabbe sankhara anatta" ti
yada pannaya passati
atha nibbindati dukkhe
esa maggo visuddhiya.

Dhammapada (Maggavaggo ayat 277,278,279)

Jikalau kita memahami ayat-ayat dhammapada diatas mengenai Anicca, Dukkha, Anatta dengan pengertian yang benar, maka seharusnya kita tidak lagi diperbudak atau diperbodoh oleh batin yang terus berkeliaran kesana-kemari, ingin ini dan itu, kecewa karena tidak mendapatkan, bersedih karena kehilangan, benci karena dilukai atau ditipu, karena hal tersebut merupakan bagian dari Attha Loka Dhamma atau fakta / realita kehidupan yang harus dipahami.

Tulisan diatas ini merupakan rangkuman dari artikel-artikel dhamma yang saya dapatkan, juga pencerahan setelah kebaktian hari minggu kemarin di Vihara Dharma Subha yang dihadiri oleh YM, Bhante Upasanto.

Semoga setelah kita memahami attha loka dhamma atau delapan kondisi yang tak terpisahkan dari kehidupan ini (untung/rugi, kemasyuran/nama buruk, dipuji/dihina, suka dan duka), maka seharusnya manusia tidak lagi memberi makan batinnya dengan segala macam bentuk kesenangan, karena sesungguhnya kesenangan itu akan pudar seiring berjalannya waktu. Kesenangan yang menimbulkan perasaan bahagia itu tentu boleh-boleh saja, asal dilandasi dengan pengertian yang benar. Ada suatu ketika saya menghadiri atau istilahnya melayat ke rumah duka seorang sodara dari tetangga, saya ikut puja bakti perkabungan dan saya melihat pihak keluarga khususnya dari istri suami tersebut sangat bersedih dan terlihat tidak bisa menerima kematian sang suami, begitu juga dengan ayah dari mendiang Ilham hadiwinata, anak penyandang kanker darah yang saya dampingi ketika sebagai relawan paliatif kanker, lagi-lagi saya melihat kesedihan dan berlinangnya air mata si bapak yang tiada henti-hentinya, hal tersebut terjadi karena mereka semua tidak bisa menerima realita hidup yang sesunggunya terjadi pada kita semua. Saya tahu kesedihan mereka begitu mendalam, karena ketika ibu saya meninggal, kesedihan pun menimpa diri saya begitu berat dan perasaan bersalah tak kunjung hilang begitu saja. Tapi kemudian saya berlatih bermeditasi, mulai rajin pergi kebaktian mendengarkan dhamma dan terlebih mulai sering membaca buku-buku dhamma peninggalan mendiang ayah saya. Saya mulai menyadari bahwa kesedihan itu akan muncul seiring kita tidak dapat menerima dan memahami perubahan hidup, karena segala bentuk penyesalan itu tiada guna, meratapi yang sudah berpisah pun tiada arti, teruslah melangkah untuk menuju kebahagiaan sejati. 

Perubahan hidup itu sejatinya berat, yang diatas tentu janganlah tinggi hati, yang dibawah tentu janganlah rendah diri, karena dunia terus berputar. Ada kala kita diatas, tapi tetaplah tegar ketika perubahan itu menghampiri kita, dan ada kalanya yang dibawah bisa mendapatkan keadaan yang lebih baik, tentu janganlah sombong dan tinggi hati. Sinkronisasi dan sinergi antara semua makhluk sejatinya dibutuhkan untuk membuat dunia ini lebih damai. Tentu Dhamma adalah penuntun jalan saya, obat dari bentuk penderitaan dan samsara di dunia ini. Semoga kita semua dapat menjalankan sila dengan baik bagi yang beragama Buddha, bagi yang tidak beragama Buddha, tentu semua agama mengajarkan kebaikan, yaitu menciptakan cinta kasih yang universal...karena dengan cinta kasih, kehidupan akan menjadi tenteram.

Sadhu sadhu sadhu

17 April 2019

Kurnia Yosep Cahyadi
"AKU INSAN BIASA"

Senin, 08 April 2019

Visitasi ke Rumah Yoga "Anak Pita Kuning"

Pada tulisan ini saya akan membagikan cerita saat visitasi ke rumah Yoga yang merupakan anak pita kuning. Visitasi ini bertujuan sebagai pendampingan rekreasional bagi anak yang menyandang penyakit kanker. Kegiatan visitasi termasuk dalam pelayanan paliatif yang tidak hanya melibatkan dokter dan perawat tetapi juga didalamnya terdapat pekerja sosial dan relawan. Salah satunya tugas saya sebagai relawan pendampingan rekreasional adalah melakukan visitasi baik pendampingan di rumah maupun di rumah sakit. Nah Hari Minggu 07 April 2019 saya baru saja melakukan visitasi ke rumah Yoga untuk yang kedua kalinya, setelah sempat berselang satu minggu tidak visit karena ada rapat perayaan gempita waisak.

Nah visitasi kali ini saya lebih banyak ngobrol dengan Yoga loh, saya jadi mengenalnya lebih dekat lagi. Tugas dari relawan pendampingan tidak hanya sebatas update kesehatan mengenai pasien tetapi yang utama adalah kita dapat membantu si pasien untuk mendapatkan kualitas hidup semaksimal mungkin. Yoga masih berumur 15 Tahun dan sekarang kelas 3 SMP dan ketika kemarin saya ngobrol dengannya bahwa Yoga saat ini sedang melaksanakan ujian sekolah dan pada tanggal 22 April nanti akan melaksanakan Ujian Nasional. Hari kemarin kami banyak ngobrol khususnya saya kagum dengannya yang bercita-cita sebagai Bug Hunter atau istilah katanya peretas yang bertujuan memeriksa kerentanan situs-situs dari ancaman para hacker yang memiliki niat jahat. Saya bilang padanya bahwa saya mendukung cita-citanya dan kebetulan dulu keluarga saya sempat memiliki sebuah warnet yang sudah tidak beroperasi namun masih memiliki beberapa stok PC dan saya berjanji pada Yoga untuk membuatkannya sebuah PC agar Yoga dapat belajar sebagai Bug Hunter. 

Yoga pada tanggal 05 April kemarin baru saja selesai pemeriksaan MRI untuk kondisi Rabdomiosarkoma yang dideritanya, kondisi kesehatan saat saya menemuinya terlihat sehat dan Yoga memang anak yang periang. Dan yang pasti semoga kondisi Yoga tetap sehat dan mendapatkan kesembuhan untuk penyakitnya, Saya sendiri sangat mendukung cita-cita Yoga, Yoga termasuk anak yang senang belajar dan tahu apa yang ia ingin lakukan saat kelak besar hehe, beda dengan saya yang masuk sekolah dulu hanya ikut-ikutan teman tanpa memiliki tujuan mau jadi apa ketika masih seumur Yoga. Tentunya semoga cita-cita Yoga ini tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak baik yaa, semoga Yoga kelak kalau sudah dewasa mungkin bisa bekerja di Badan Intelejen Negara atau BSSN.
Kita tidak hanya ngobrol saja tetapi ya seperti visitasi pada umumnya harus diselingi dengan bermain game yeahh!, awalnya kami bermain Ludo bersama Yoga dan sepupu Yoga, yaitu Latip dan Asrof. Hari ini Botbot tidak ada di rumah Yoga, kata Latip dia lagi ngambek hehe. Setelah main Ludo, kami bermain pancasila lima dasar dan terakhir bermain Uno kartu, setelahnya saya pamit pulang ke Yoga karena masih ada kegiatan yang haru saya lakukan siang harinya, yaitu ikut KDAB. Visitasi hari itu hanya dilakukan selama satu setengah jam saja, tetapi hari itu saya jadi lebih banyak tahu tentang Yoga, yaitu cita-cita Yoga dan hari itu pula saya akhirnya berteman dengan Yoga di Facebook. Ternyata Yoga itu pencinta Naruto loh, dia juga suka main game online di Smartphonenya, dia juga punya banyak teman tongkrongan, tetapi saya nasehati Yoga agar berteman atau bergaul itu tetap waspada, harus hati-hati dan mengambil sisi positifnya saja, "Yoga jangan ikut-ikutan yah yang negatif-negatif, misalnya seperti merokok" pesan saya padanya. Yoga seperti adik saya saja, begitu juga adik-adik pita kuning yang pernah saya dampingi, saya menganggap seperti adik sendiri, saya peduli padanya dan tentunya bersimpati atas penyakit yang dideritanya. Harapan saya untuk Yoga pastinya agar Yoga bisa sembuh dan bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya agar cita-citanya bisa tercapai.
Yoga Rivaldi

Latip

Asrof



itu deh sekilas cerita visitasi di hari minggu pagi yang cukup terik mataharinya saya bersama Yoga dan sepupu-sepunya, tentunya saya berharap para relawan pendampingan Yoga lainnya, yaitu kak Cia, Kak Asya, dan Kak Ririn nanti bisa visitasi bareng biar semakin ramai. Semoga saya lebih rajin lagi deh melakukan visitasi hehe, Yoga yang semangat yah, jangan menyerah dan putus harapan, penyakitmu hanya sementara, suatu saat penyakit itu akan berubah menjadi kesembuhan, yakinlah !, kami semua mendukung Yoga dan selalu berdoa untuk kesembuhan Yoga. Yoga tetap semangat juga dalam menggapai cita-citamu.

Dengan penuh cinta kasih.
Mettacitena

Kurnia Yosep Cahyadi

Jumat, 29 Maret 2019

Donor Darah itu sehat dan membawa kebaikan

Kali ini saya akan menulis cerita mengenai kisah saya mulai mengenal aktivitas rutin ini, yaitu donor darah. Apa sih donor darah itu ? donor darah adalah suatu kegiatan menyumbangkan darah yang dilakukan secara sukarela untuk tujuan transfusi darah bagi pasien yang membutuhkan. Judul diatas adalah donor darah itu sehat dan membawa kebaikan, ya itu sudah saya alami, makanya saya ingin membagi cerita tersebut. Donor darah itu menyehatkan tubuh kita, donor darah itu membawa kebaikan, kebaikan bagi si penerima kantung darah tersebut dan kebaikan buat kita sendiri yang menyumbangkan darah karena bisa ikut bersumbangsih untuk kepentingan kemanusiaan.

awal mula saya mengenal donor darah adalah waktu smk tingkat akhir saat ada kegiatan donor darah di sekolah, tetapi waktu itu saya belum diizinkan donor darah karena tekanan darah saya rendah. Akhirnya saat kuliah keinginan untuk donor darah bisa tercapai, saat itu BEM mengadakan kegiatan donor darah. Hingga saat ini saya rutin berdonor darah dan bahkan dalam setahun saya bisa 5-6 kali donor darah, kok bisa ? karena saya sudah cukup sering donor darah, maka pihak PMI mengizinkan saya dapat mendonorkan darahnya setiap 61 hari dan belum termasuk donor darah apheresis. Namun pertama kali saya donor darah adalah bukan saat di kegiatan BEM tersebut, namun justru kejadian tersebut terjadi pada tahun 2010 ketika saya menemani ayah yang sedang dirawat di rumah sakit medistra di daerah kuningan. Ketika saya sedang duduk di lounge tempat keluarga menunggu pasien, tiba-tiba saya didatangi oleh seorang perempuan yang berpakaian rapih ala eksekutif muda dan menanyakan saya, bapak golongan darahnya apa ? dan serentak saya bilang golongan darah saya B rhesus positif, si ibu tadi lalu kembali bertanya dan menjelaskan bahwa ternyata atasannya yang merupakan WNA asal korea sedang di ruang operasi dan membutuhkan kantung darah golongan B, alasannya PMI setempat sedang kehabisan stok darah golongan B, lalu dia bertanya apakah saya bersedia untuk menyumbangkan darah saya, dan waktu itu saya bersedia meskipun saya sadar bahwa saya belum pernah donor darah sekalipun. Akhirnya saya langsung diantar menemui perawat dan perawat meminta izin kepada saya untuk mengambill darah saya. Karena saya memiliki niat untuk berbuat baik, rasa takut itu tiba-tiba hilang, memang awalnya deg-degan ya, takut pasti ada, membayangkan saja tertusuk jarum rasanya perut ini sudah linu pada waktu itu. Namun karena saya sendiri punya ayah yang sedang sakit waktu itu dan saya anggap saja berbuat baik demi kesembuhan beliau. Akhirnya pengambilan darah untuk transfusi ke WNA korea itu berjalan dengan lancar, saya tidak merasakan sakit sama sekali, hanya seperti digigit semut saja hehe. Selesai donor darah saya langsung kembali masuk ke kamar perawatan ayah saya, lalu selang beberapa menit ibu eksekutif tadi mengetok-ngetok pintu kamar perawatan dan mengucapkan terima kasih kepada saya dan berniat untuk memberikan secarik amplop putih kepada saya, tentu saya tahu itu isinya pasti uang dan dengan tenang saya menolak pemberian amplop tersebut, karena saya melakukan perbuatan tadi bukan karena atas dasar iming-iming uang tetapi atas dasar "Kemanusiaan".

Nah itulah sekilas cerita awal kisah saya pertama kali donor darah, cukup menarik bukan ? darah yang pertama kali saya berikan bukan kepada Palang Merah Indonesia, tetapi malah kepada warga negara asing asal Korea Selatan. Dan akhirnya sejak tahun 2010 saya sudah rutin menjadi pendonor aktif. sekarang saya mendonorkan darah langsung ke PMI Kota Tangerang dibelakang Lapangan Ahmad Yani atau alun-alun Kota Tangerang.
Ini kartu donor yang cukup tua dan terbitan PMI Kabupaten Tangerang, dulu saya cukup lama donor darah di PMI Kabupaten Kotang dan setelah PMI kabupaten Kotang berpindah tempat, saya pindah ke PMI Kota Tangerang yang jaraknya cuma sekitar 50 meter dari PMI Kabupaten Kotang.
Nah ini jumlah donor darah yang sudah saya lakukan, ini bukan mau nyombong yaa, hanya sekedar sharing saja hehe, mungkin bisa menginspirasi buat teman-teman yang baru mau menyumbangkan darahnya.

Jadi buat teman-teman yang belum pernah donor darah, ayo segera lekas sumbangkan darah anda ya !, karena donor darah itu memiliki banyak manfaat baik buat kesehatan kita dan juga untuk menolong sesama yang membutuhkan. PMI sendiri memang tidak memberikan harga untuk kantung darah yang mereka peroleh, tapi biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk darah tersebut adalah sebagai ganti biaya pengelolaan darah. Segera langsung datang ke PMI terdekat, jangan malu-malu, petugas PMI sangat welcome dan ramah apabila anda bilang mau donor darah dan mereka akan melayani anda dengan tulus sebagaimana anda yang penuh tulus ikhlas ketika menyumbangkan darah.

Donor darah untuk kesehatan anda yang untuk kebaikan anda sendiri, donor darah juga untuk kepentingan kemanusiaan, menolong sesama tanpa pamrih. Dan tentunya donor darah juga memiliki beberapa persyaratan dan kondisi yang harus dipenuhi agar anda bisa mendonorkan darah secara maksimal dan itu tidak perlu saya post disini karena anda bisa langsung datang ke PMI terdekat untuk berkonsultasi mengenai hal tersebut atau surfing di internet. Saya harap anda juga jujur ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan didalam form donor darah yang harus anda isi ketika mau mendonorkan darah, seperti pertanyaan apakah anda sehat hari ini ?, apakah anda minum obat yang mengandung aspirin dalam 3 hari terakhir, apakah anda tidur dengan cukup 5-6 jam semalam ?, dan lain sebagainya. Janganlah kita mendonorkan darah hanyalah dengan tujuan mengejar piagam penghargaan, karena itu hanya akan meningkatkan keegoan semata dan kesombongan. Saya sendiri malah tidak pernah mendapatkan piagam dari PMI padahal saya sudah lebih dari 25x donor darah dalam 9 tahun terakhir. Tapi tidak masalah bagi saya, karena tujuan saya berdonor darah bukanlah itu, tetapi untuk mengetahui kondisi kesehatan saya, untuk kesehatan saya sendiri agar terhindar dari penyakit-penyakit seperti kanker dan jantung serta yang paling utama untuk tujuan kemanusiaan karena satu kantung darah dapat menyelamatkan 3-6 orang pasien berbeda. Dan pada tanggal 28 Maret kemarin adalah donor darah saya yang sudah ke 18 x di PMI Kota Tangerang dan kemarin durasi pengambilan darah saya untuk 450cc kantung darah hanya memakan waktu 5 MENIT 5 DETIK yang notabenenya donor darah memakan waktu 7-15 menit, lalu petugas donor mengatakan bahwa saya pemegang rekor di Kota Tangerang untuk durasi tercepat pengambilan darah.

Saya juga sudah mendaftarkan diri untuk menjadi pendonor apheresis. Apa itu donor apheresis, donor apheresis adalah donor darah, dimana komponen darah yang diambil hanyalah komponen trombositnya saja, sehingga bagian komponen darah yang tidak diperlukan akan dikembalikan ke tubuh si pendonor. Nah siapa yang membutuhkan komponen darah trombosit itu, karena saya adalah relawan pendampingan anak kanker, saya memahami bahwa banyak pasien kanker yang membutuhkan kantung darah apheresis untuk transfusi mereka, seperti contohnya pasien penderita kanker darah atau leukimia. Sampai saat ini sih saya belum mendapatkan panggilan donor darah apheresis karena kata perawat PMI harus menunggu antrian. Tapi kedepannya saya akan coba mengunjungi rumah sakit dharmais untuk mendaftar sebagai pendonor apheresis ke bank darah Rumah Sakit Dharmais. Tapi yang jelas bersabar saja, sambil menjaga tubuh ini agar tetap sehat dan bisa donor darah rutin setiap 2-3 bulan sekali.

Semoga cerita mengenai kisah saya mengenal donor darah dan sampai sekarang sudah menjadi kebiasaan rutin ini bisa menjadi pengetahuan dan bahkan inspirasi ya buat para pembaca. Intinya donor darah itu tidak sakit koq dan banyak sekali manfaatnya, salah satunya kita dapat terhindar dari penyakit-penyakit berat seperti stroke, gagal jantung, kanker, dan lain sebagainya. Maka dari itu mari kita budayakan hidup sehat dengan donor darah :)

Kurnia Yosep Cahyadi

Entri yang Diunggulkan

Kesehatan Jasmani dan Kecencerungan Kriminal

Kesehatan Jasmani dan Kecenderungan Kriminal  dikutip dalam buku "Bagaimana Mengatasi Kesulitan Anda" Karangan Ven.K.Sri Dham...