Jumat, 31 Juli 2020

“Orang yang Sukar Diketemukan"

“Orang yang Sukar Diketemukan"

Sumber : Anguttara Nikaya 1.119 : Dullabha Sutta

Artikel oleh : Upc. Yosep Cahyadi

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa (3x)

Pujaca Pujaniyanam Etammangalumuttaman

Menghormat yang patut dihormat, itulah berkah utama.

 

Semua makhluk hidup baik manusia ataupun binatang menginginkan rasa aman, kebahagiaan dan jauh dari penderitaan. Tidak ada manusia yang ingin mendapati suatu permasalahan dalam kehidupannya, tetapi karena kita terlahir kedunia ini pasti tidak akan luput dari masalah kehidupan. Tentu permasalahan kehidupan setiap orang berbeda-beda. Bayi yang baru lahir sudah merengek-rengek karena kedinginan, itu juga sebuah masalah. Masalah cenderung menimbulkan ketidakpuasan atau penderitaan jika kita tidak bisa menghadapinya.

Ketika kita semua lahir, ada yang pasti merawat kita, memberi makan atau menyusui, memandikan, memakaikan kita pakaian, mengajak kita bermain dan menidurkan kita. Ketika beranjak dewasa kita kemudian disekolahkan agar bisa memiliki pengetahuan. Dan semua itu dilakukan oleh Ayah dan Ibu kita semua, jikapun kita tidak memiliki ayah atau ibu, pasti ada seseorang yang karena kebaikan hatinya mau mengurus kita saat masih kecil.

Sang Buddha yang telah begitu lama Parinibbana lebih dari 2600 tahun yang lalu, ajarannya selalu mengajarkan kita semua agar janganlan berbuat jahat, perbanyak kebajikan dan mensucikan hati dan pikiran. 3 hal tersebut erat kaitannya dengan mengembangkan Sila, Samadhi dan Panna agar kita semua terbebas dari penderitaan dan dapat memperoleh kebahagiaan sejati. Dapat bertemu dengan seorang sahabat atau seseorang yang baik secara moral, memiliki cinta kasih serta mau menolong sesama adalah suatu berkah utama di dalam mangala sutta. Hal tersebut terjadi karena jasa-jasa kebajikan yang kita buat di masa lampau bisa bertemu dengan orang yang baik.

Di dalam Dullabha Sutta (AN.2.119) : Sang Buddha mengatakan kepada para Bhikkhu, ada dua macam manusia yang sukar diketemukan di Dunia ini :

1.      Orang yang disebut Pubbakari, yaitu orang yang memberikan pertolongan sejati.

2.      Orang yang disebut Katannukatavedi, yaitu orang yang menyadari telah menerima pertolongan orang lain, dan merasa berterimakasih serta berusaha membalas budi yang telah ia terima,

Pubbakari adalah orang yang memberikan pertolongan sejati, pertolongan sejati yang dimaksud disini adalah pertolongan yang akan selalu ada kapanpun dan dimanapun selama masih sanggup dilakukan. Dapatkah kita melihat contoh seorang Pubbakari ? Contoh yang paling mudah adalah orang tua kita sendiri, yaitu ayah dan ibu adalah seorang Pubbakari bagi kita semua. Karena kasih orang tua sepanjang masa tidak mengenal waktu dan dilakukan atas dasar kasih sayang yang tiada batas seperti yang terkandung di dalam Karaniyametta Sutta yang berbunyi : “sebagaimana seorang ibu mempertaruhkan jiwa melindungi putra tunggalnya; demikianlah terhadap semua makhluk kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas. Seperti itulah cinta orang tua kepada anaknya, orang tua memberikan semua yang terbaik semampunya untuk kita, sejak kita bayi sampai kita dewasa, hingga akhir hayat beliau. Beliau melakukan yang terbaik bagi anaknya, mengasuh dari bayi hingga dewasa, mengobati mereka bila sakit, memberikan mereka pendidikan, menyediakan makanan, mencarikan mereka pasangan untuk berumah tangga, mewariskan mereka harta kekayaannya dan semua itu dilakukan semata-mata agar anak mereka bahagia, memiliki bekal yang cukup di masa depan. Semua itu dilakukan oleh orang tua tanpa pamrih kepada anaknya dan pengorbanan yang ayah dan ibu lakukan tidaklah demi untuk mendapatkan balas jasa dari sang anak, tetapi karena kepedulian dan kasih ayah dan ibu kepada sang anak, apakah sang ibu pernah menakar air susunya ?.

Sebagai anak, apa yang akan kita lakukan untuk kedua orang tua kita, yang mana mereka adalah Pubbakari bagi kita, karena sekecil apapun tindakan yang mereka lakukan kepada kita, mereka tetaplah kedua orang tua kita, khususnya ibu yang begitu sulitnya mengandung kita dan betapa sakitnya saat melahirkan kita. Kita begitu sangat berhutang budi pada orang tua yang telah melahirkan kita ke dunia. Maka tentu kita harus menjadi seseorang yang disebut Katannukatavedi, yaitu orang yang menyadari telah menerima pertolongan dan merasa berterimakasih serta berusaha untuk membalas budi.

Di dalam Sigalovada Sutta terdapat lima kewajiban yang harus dilaksanakan oleh anak-anak kepada orang tua mereka, yaitu :

1.      Menyokong orang tua

2.      Melakukan kewajiban-kewajiban bagi orang tua

3.      Mempertahankan kekayaan keluarga

4.      Berkelakuan yang pantas demi nama baik keluarga

5.      Melakukan perbuatan-perbuatan berjasa untuk dipersembahkan pada orang tua yang telah tiada (Pattidana).

Namun bagi kalian, adik-adik yang masih sekolah dan belum bisa mencari uang bagaimana bisa membalas jasa kebaikan orang tua ? tentu tetap bisa karena membalas budi bukan berarti harus selalu dengan memberikan materi kepada orang tua, tetapi dengan adik-adik selalu mengikuti nasehat dari ayah dan ibu, tekun untuk belajar, berusaha membantu ayah dan ibu di rumah, selalu bersikap hormat, memiliki sopan santun dan ramah kepada mereka, tentu adik-adik sudah melakukan praktek dari Katannukatavedi. Akan tetapi bila adik-adik menjadi anak yang bandel, tidak mendengarkan nasehat orang tua, tidak giat belajar dan apalagi tidak mau mengikuti sekolah minggu, niscaya hati orang tua akan menjadi sangat sedih.

Maka dari itu adik-adik yang terkasih, sebagai siswa-siswi sang Buddha marilah kita mempraktekkan ajaran Beliau dengan penuh keyakinan. Karena beliau adalah seorang Guru Agung yang mengajarkan kepada kita mengenai ajaran yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya, seorang Guru Agung yang membimbing kita menjadi manusia yang baik dan berbudi luhur.

Sebagai akhir cerita, saya sisipkan Maklumat Brahmagiri II dari Raja Asoka yang merupakan ringkasan dari Khotbah Sang Buddha kepada Pangeran Suku Licchavi yang menekankan pentingnya kewajiban seorang anak terhadap orang tua, yang berbunyi sebagai berikut :

“Ibu, ayah dan Guru harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Kasih sayang harus diberikan pada semua makhluk. Harus berbicara benar. Semua kebajikan ini harus dianjurkan.’

“Begitu juga, Upajjhayo (guru penahbis) haruslah dihormati murid. Hubungan harus dijalankan secara pantas.”

“Inilah perilaku kuno yang wajar. Inilah penyebab umur panjang. Karenanya ini harus dijalankan.”


sabbe satta bhavantu sukhitatta

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Kesehatan Jasmani dan Kecencerungan Kriminal

Kesehatan Jasmani dan Kecenderungan Kriminal  dikutip dalam buku "Bagaimana Mengatasi Kesulitan Anda" Karangan Ven.K.Sri Dham...