Sabtu, 30 November 2019

Dokter bilang usia Ibuku tinggal 3 Bulan lagi...

Halo sahabat sejati, apa kabar ?
sudah beberapa bulan ini saya tidak post cerita atau ngeblog, dan pada hari ini saya sempatkan ngeblog. mungkin 5 atau 6 bulan lebih saya tidak ngeblog karena dalam kurun waktu 6-7 bulan tersebut banyak hal terjadi dalam diri saya. Mulai saya bergabung pada barisan Tzu Chi dan mengikuti kegiatannya seperti daur ulang, bedah buku, kunjungan kasih, training relawan dan mencari donatur misi amal, membantu Baksos komunitas OTR, membantu Gempita Waisak Walubi Banten, melanjutkan aktivitas saya sebagai relawan asuhan paliatif bagi anak penyandang kanker yang sudah saya lakukan selama 2 tahun lebih, mengikuti perayaan Kathina STI Banten, membantu sebagai relawan pindapata, dan yang terakhir saya bergabung ke Wadah Dasa Paramita untuk mengisi Sekolah Minggu Buddhis. Kegiatan tersebut saya lakukan pada hari Sabtu-Minggu, dan makanya saya sampai lupa atau agak malas nulis hehe. Tapi semua kegiatan tersebut terekam dalam benak saya dan saya bahagia melakukan kegiatan itu semua.

Kali ini entah mengapa setelah saya membaca sebuah buku Dhamma karangan Ajahn Chah yang berjudul "TIDAK ADA" dan membaca beberapa bait dalam buku tersebut sangat mengetuk hati saya. Begini isi dari kata-kata dalam bait buku tersebut :
"Kalau Anda telah terlatih dengan benar, Anda tidak akan merasa ketakutan ketika jatuh sakit, juga tidak sedih jika seseorang meninggal. Ketika Anda pergi ke Rumah Sakit untuk menjalani perawatan, tanamkan didalam pikiran jika Anda merasa lebih baik, itu bagus; dan jika Anda meninggal, itu juga bagus. Saya menjamin Anda bahwa bila dokter berkata kepada saya bahwa saya mengidap kanker dan akan mati beberapa bulan lagi, saya akan mengingatkan dokter itu, "Hati-hati, karena kematian juga akan datang menjemputmu. Ini hanya masalah siapa yang pergi duluan dan siapa yang pergi belakangan". Dokter tidak dapat menyembuhkan kematian dan tidak dapat mencegah kematian. Hanya Buddha yang dapat disebut dokter, jadi kenapa tidak pergi dan menggunakan obat dari Buddha ?".

Dan jadi teringat soal kata seorang Dokter Bedah Saraf yang mengoperasi mendiang ibu saya. Ibu saya bernama Lani atau sering dipanggil Meilan terdiagnosa Kanker Otak jenis Glioblastoma Multiforme (GBM) yang sudah dikategorikan Stadium akhir. Tumor Otak yang bersarang di belahan otak sebelah kiri ibu saya adalah jenis tumor ganas yang tumbuh dan menyebar begitu sangat cepat keseluruh bagian otak dalam hanya beberapa bulan. Apabila tidak diberikan perawatan medis seperti operasi dan radiasi, ibu saya hanya bertahan selama 3 bulan dan bila diberikan perawatan medis secara komplit, umurnya paling hanya bertahan selama 1 tahun, dilihat usianya sudah 50 tahun keatas sangat sulit untuk bisa bertahan hidup hingga 5 tahun.

Pertanyaan yang paling mengoyak hati saya adalah ketika sang Ibu bertanya kepada saya, Mama bisa hidup berapa lama kur ? dan saya menjawabnya dengan hati yang cukup berat, karena harus berbohong demi ketenangan dirinya, "tenang saja mah, bisa sampai 20 tahun lagi pasti".  ibuku melakukan perawatan kanker sejak Agustus 2017 dengan menggunakan asuransi kami membawanya ke salah satu Rumah Sakit terbaik di Asia, yaitu Mount Elizabeth Hospital. Selama hampir 2 bulan saya merawat ibu disana untuk berobat dan kembali pada Bulan Oktober 2017. Tekanan batin ibu sunggu berat saat berada di Singapura, disamping harus meninggalkan suaminya yang juga Ayah saya yang sedang terkapar di Rumah Sakit akibat serengan jantung mendadak, Ibu harus kuat menahan sinar Radiasi yang menghantam wajahnya selama 30 hari dan menelan pil-pil kemoterapi yang kian menggerogoti tubuhnya. Lebih-lebih akhirnya jantung ayah sudah tidak kuat untuk berdetak dan mengalami kematian tiba-tiba di kediaman kami di Tangerang pada Bulan September 2017, 2 hari setelah ayah mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibu saya. Hal tersebut sangat mengganggu pengobatan ibu, tapi mama sangat kuat dan bahkan tidak menangis ketika terakhir kali melihat jenazah papa.

Pada bulan Juli 2018, kami kembali ke Singapura untuk pengobatan rawat jalan dan memeriksa kembali kesehatan dan hasil MRI Brain Ibu saya kepada dokter tersebut. Mama yang baru saja pulang berlibur bersama keluarga ke Bali kembali harus menelan pil pahit dalam kehidupannya, bahwa setelah dokter memeriksa hasil MRI tersebut, tumor yang bersarang di otak mama semakin masif dan tidak terkendali. Saya dan Dokter berbicara dalam Bahasa Inggris dan Mama memang tidak bisa berbicara dan paham Bahasa Inggris jadi saya yang selalu menjadi penerjemah bagi mama. Dokter tersebut mengatakan "The tumor is going bad, just take your mother home and make her happy"dan juga mengatakan prognosis ibu saya hanya tinggal 3 bulan.

Sungguh berat bagi saya untuk menerima hal tersebut, terlebih bagaimana menjelaskan ke mama bahwa umurnya hanya tinggal 3 bulan ?!. Dokter onkologi saat itu juga menawarkan apakah ibu mu mau diberikan terapi radiasi lagi untuk menekan pertumbuhan sel kankernya ?. Dalam hati saya mama sudah cukup menderita menjalani terapi radiasi selama 30 hari, menelan pil kemo dan suntikan obat, dan sekarang usia mama hanya tinggal 3 bulan, akhirnya saya mengambil keputusan bersama kakak perempuan saya untuk tidak menjalani terapi radiasi tambahan tersebut dan Dokter Onkologi pun menyetujuinya dan memiliki pemahaman yang sama dengan saya. Akhirnya kami pulang ke Hotel dan ditengah perjalanan saya mengatakan ke mama, "mah ini kita sudah tidak berobat lagi di Singapura, mama sudah dikasih obat rawat jalan dan nanti bisa beli obat di Indonesia", sungguh hati saya mau menangis mengatakan itu, karena sudah tidak ada harapan bagi mama untuk mengobatinya secara ilmu kedokteran medis.

Kami pulang Ke Indonesia dan berusaha untuk mengobati penyakit mama dengan segala macam cara, mulai terapi herbal, saya banyak menanam daun belalai gajah, membeli melalui online bibit daunnya dan sampai meminta-minta ke rumah orang untuk daun-daun herbal tersebut. Mama juga termasuk orang yang rajin bermeditasi sewaktu masih sehat, dan pada saat terkena kanker pun masih rajin bermeditasi untuk ketenangan batinnya. Atas informasi seorang dokter, Mama berobat ke seorang dokter papua yang dipercaya mampu mengobati penyakit-penyakit kritis dan yang terakhir mama diobati dengan helm anti kanker yang juga dipercaya mampu memperkecil tumor. Namun kondisi mama tetap tidak membaik dan berangsur-angsur saraf motoriknya semakin tidak merespon, mulai sulit berjalan, sulit bicara dan pada akhirnya mama menghembuskan nafas terakhirnya pada Pagi Subuh tgl 3 November 2018.

Tentunya selama mama sakit, kami sebagai anak sudah mengusahakan cara-cara baik medis, penguatan spiritual, dan psikososial. Doa paritta suci telah diuncarkan, mengundang para Bhikkhu dan juga memberikan persembahan kepada para Bhikkhu saat mama masih bisa bicara dan saat-saat terakhir mama terbaring di ICU pun, para Bhikkhu bersedia untuk datang menguncarkan Paritta suci untuk kesembuhan mama. Tapi kami harus bisa menerima itu semua, terlebih mama juga semoga bisa menerima apa yang dialaminya. Segala sesuatu hanyalah sebuah fenomena sebab dan akibat, apabila kita bisa mengerti itu hanyalah sebuah sebab dan hasil dari sebab, maka penderitaan bisa kita atasi. Jadi kematian hanyalah sebuah proses dari kehidupan ini, saya juga sering menjelaskan ke mendiang papa dan mama, saya ceritakan kisah-kisah saya bekerja sebagai Relawan Asuhan Paliatif bagi para anak-anak yang terkena kanker di usia yang masih dini agar mereka bisa lebih kuat menghadapi penyakitnya, bahwa penyakit fisik tidak bisa kita hindari, tetapi yang terpenting adalah batin ini harus bisa tenang dan menerima menghadapi segala perubahan dari kondisi fisik agar kehidupan bisa berkualitas.

Saya bersedih ketika kedua orang tua meninggal dan saya harus mulai dewasa berdiri di kaki sendiri tanpa ada sokongan dan nasehat dari orang tua. Awalnya saya begitu bersedih kehilangan mereka, tapi kian hari saya semakin giat mempelajari Dhamma, saya mengerti bahwa kelahiran dan kematian adalah satu hal yang sama. Ajahn Chan berkata "Kelahiran dan Kematian adalah satu hal, Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; Bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini ?"

Jadi pada awalnya perasaan sedih kehilangan orang tua begitu tinggi pada diri saya, penyesalan mendalam atas kematian mereka selalu muncul dalam pikiran saya. Saya menyadari itu Normal, itu datang sari suatu sebab, apakah sebab itu ? saya belum bisa menerima, saya masih menyalahkan diri sendiri, saya kurang ini kurang itu, saya suka marah, saya telat mempelajari Dhamma, lalu saya menyadari kalau saya begini terus batin saya akan semakin merosot, bukankah itu tidak baik bagi kemajuan batin saya ?

Akhirnya saya mulai rajin membaca buku Dhamma, rajin baca Paritta, rajin pergi ke vihara, saya lakukan banyak perbuatan baik yang ditujukan untuk mendiang dan masih terus melanjutkan kegiatan sosial kerelawanan hingga hari ini. Saya berserah diri dengan menerima legowo apapun yang terjadi pada diri saya, itu adalah hasil perbuatan saya, hasil dari karma. Saya tidak bersedih lagi atas kematian orang tua, namun sebagai wujud bakti kepada mendiang orang tua, sesuai Sigalovada Sutta saya harus menjaga warisan dengan baik, berperilaku baik, melakukan pelimpahan jasa bagi beliau dan menjaga nama baik keluarga, lebih sadar, bisa menerima dan melihat segala sesuatu sebagaimana mestinya dan yang paling penting adalah saya mengusahakan hidup saya dengan baik pada saat ini agar setiap hal pada masa lampau menjadi mimpi cemerlang dan setiap hari mendatang menjadi angan-angan yang gemilang, hiduplah hari ini dengan sebaik-baiknya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kemajuan batin kita.

Yosep Cahyadi / Kurnia

Semoga semua makhluk berbahagia
Idam vo nati nan hotu Sukhita hontu natayo. Sadhu! Sadhu! Sadhu!

Rabu, 01 Mei 2019

Kunjungan Kasih OTR ke Panti Asuhan Bhakti Luhur

Kali ini saya ingin membagikan cerita saya menghabiskan kegiatan di hari rabu pagi hingga sore pada tanggal 1 Mei 2019 yang kebetulan tanggal merah karena hari buruh. Kali ini komunitas OTR berkesempatan untuk melakukan kunjungan kasih ke Panti Asuhan Bhakti Luhur di daerah citra raya Tangerang. Panti Asuhan tersebut adalah panti asuhan dan juga sekolah untuk anak berkebutuhan khusus antara lain, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, anak yang memiliki autis dan kesulitan belajar. Kunjungan kasih tersebut bertujuan selain untuk memberikan bantuan berupa bahan makanan dan kebutuhan lainnya yang dibutuhkan oleh panti, makan siang bersama anak-anak panti, kami para relawan OTR dan donatur juga datang untuk menghibur anak-anak berkebutuhan khusus.



 Tim OTR dipandu cie Ayu menghibur anak-anak panti 


Kita juga mengajak anak-anak panti untuk bernyanyi bersama




Terakhir selesai kegiatan kami berfoto bersama, anak-anak panti asuhan Bhakti Luhur sangat senang dengan kedatangan kami lohh, semoga dikesempatan berikutnya kami bisa mengunjungi kalian lagi ya adik-adik!.

Foto bersama TIM Baksos OTR

Ya itulah sedikit cerita kegiatan saya di hari rabu pagi yang kebetulan hari libur, dari foto yang saya tampilkan kelihatannya sudah cukup menggambarkan kegiatan apa saja ya yang kami lakukan, tetapi sebetulnya foto-foto tersebut menggambarkan arti yang luas apabila kita mau menyerapkan kedalam lubuk hati. Tentu anak-anak tersebut tidak pernah menginginkan dilahirkan dalam keadaan demikian, jika mereka bisa berpikir secara normal mereka tentu tidak mau menjadi seperti itu. Namun akibat keterbatasan cara kerja otak yang menghambat tumbuh kembang mereka, sehingga mereka hidup dalam keterbatasan dan harus bersekolah di sekolah khusus. Setelah saya mengikuti kegiatan kunjungan kasih di panti asuhan Bhakti Luhur, saya semakin menyadari untuk tidak berhenti mensyukuri hidup setiap hari, setiap detik dalam hidup ini. Ada orang - orang yang lahir dalam keterbatasan, namun apa yang harus dipermasalahkan ?, semua manusia juga hidup dalam keterbatasan, hanya apakah kita mau mementingkan ego kita sendiri atau ikut berkontribusi untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan.Tentu siapa yang mau lahir dalam keadaan demikian, saya melihat ada relawan yang membawa cucu mereka ikut kunjungan kasih tadi pagi dan mereka berumur sekitar 6 atau 7 tahun sama dengan sebagian anak - anak yang ada di panti, Namun mereka terlahir dalam keadaan sehat dan normal, mereka bisa berlari-lari tanpa harus ditemani perawat. Kemudian saya berpikir bahwa sungguh saya sangat bersyukur / gan en bahwa saya dilahirkan dalam keadaan sehat dan normal, tetapi justru karena saya bersyukur, sikap empati terhadap sesama kemudian muncul dan saya berusaha untuk ikut menghibur anak-anak berkebutuhan khusus di panti asuhan Bhakti Luhur, berusaha untuk tidak jaim dan memanfaatkan waktu yang singkat untuk menghibur mereka, meskipun terkadang candaan dan goyangan saya sebetulnya agak garing, yaa walaupun begitu setidaknya saya sudah berusaha untuk membuat mereka bergembira pada hari itu.

Anak-anak berkebutuhan khusus tersebut sungguh bergembira saat kami hibur, entah hiburan kami lucu atau tidak, mereka tetap tersenyum tanpa syarat, senyum dan tawa mereka tulus dan tidak mengisyaratkan apapun. Berbeda ada sebagian orang bisa tersenyum, namun senyum mereka memiliki maksud tertentu, bahagia mereka memiliki maksud tertentu, mungkin ada yang tersenyum atau senang hanya karena menuruti saja atau hanya karena merasa tidak enak. dua hal yang saya pelajari dari anak-anak abk tersebut adalah "Ketulusan yang benar-benar dari hati dan tidak mengharapkan imbalan" dan juga penerimaan atas kondisi kehidupan yang mereka alami, memang mungkin mereka tidak mengerti atas kondisi yang mereka alami, tetapi setidaknya mereka toh masih bisa bersosialisasi dengan cara mereka sendiri tanpa harus merasa malu dengan kondisi mereka -  "Bersyukur dan menerima kehidupan atau berusaha untuk tidak melekat atau bebas dari upadana.

"Banyak sekali penyakit dalam kehidupan ini : kondisi tubuh yang tidak selaras, ketidakakuran dalam keluarga, serta gejolak dan ketidaknyamanan dalam masyarakat" - Master Cheng Yen.

"Bila kita ingin memupuk cinta kasih yang murni, jangan biarkan perasaan "ingin memiliki" dan "takut kehilangan" menguasai hati kita. Jika kita tidak mengharapkan imbalan, maka tidak akan timbul kerisauan" - Master Cheng Yen.

Semoga 2 kata perenungan dari master Cheng Yen tersebut dapat mencerahkan kita semua. 

Dengan penuh pikiran cinta kasih
Mettacitena

Semoga semua makhluk berbahagia,

Kurnia Yosep Cahyadi




Menjadi Relawan Tzu Chi

Tanggal 28 April 2019 kemarin saya mengikuti training Abu Putih di yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Pantai Indah Kapuk. Training relawan AP tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan bagi para relawan Tzu Chi tentang hal - hal yang berhubungan dengan visi dan misi tzu chi. Untuk mewujudkan Visi dan Misi Tzu Chi maka para relawan perlu dibekali beberapa pengetahuan seperti pengetahuan tentang manajemen organisasi di Yayasan Buddha Tzu Chi, tugas - tugas relawan Tzu Chi, Budaya Humanis, menggalang hati dan menggalang dana.

Seperti diketahui bahwa Tzu Chi memiliki visi untuk menyucikan hati manusia, mewujudkan masyarakat yang aman dan tenteram (harmonis), serta dunia terhindar dari bencana. Cita - cita ini hanya akan dapat tercapai dengan menumbuhkan cinta kasih di dalam diri setiap orang. Inilah yang dilakukan Tzu Chi dengan menjalankan 4 misi utama, 8 jejak Dharma, yaitu :
1. Misi amal
2. Misi kesehatan
3. Misi Pendidikan
4. Misi budaya kemanusiaan
5. Bantuan bencana internasional
6. Donor sumsum tulang
7. Pelestarian lingkungan
8. Relawan Komunitas
(www.tzuchi.or.id)

Banyak yang saya pelajari ketika mengikuti training abu putih pada saat itu mulai dari sejarah didirikannya yayasan Buddha Tzu Chi oleh shang ren (master) Cheng Yen pada tahun 1966 sampai dengan menjadi yayasan yang sangat besar dan melayani masyarakat yang membutuhkan di 94 negara di Dunia, saya belajar mengenai tahapan-tahapan menjadi relawan yang baik dan sesuai prosedur, belajar menggalang hati dan dana untuk mewujudkan visi dan misi Tzu Chi, dan yang paling saya sukai adalah materi Budaya Humanis yang mengajarkan kita untuk bertata susila dengan baik dan mulia di dalam kehidupan bermasyarakat dari mulai hal kecil hingga besar. Semua pelatihan tersebut membuat saya semakin bersyukur dan sangat bersyukur, saya sangat Gan En dari hati yang paling dalam karena hidup saya dapat mengenal Tzu Chi. Tzu Chi mengajarkan saya untuk hidup lebih bersyukur dengan segala keadaan yang saya miliki, Tzu Chi mengajarkan saya untuk berperilaku sesuai dengan etika dan tata kesusilaan yang luhur, Tzu Chi mengajarkan saya untuk menghargai sebutir nasi yang didapat dan diproses melalui serangkaian kegiatan yang tidak sedikit. Dan terlebih saya sangat bersyukur karena dapat menjadi manusia yang tentunya dapat bermanfaat bagi sesama.

Lalu bagaimana saya bisa terdampar di Tzu Chi ? hehe saya tidak terdampar sih, hati saya yang memang ingin berada di Tzu Chi sebagai relawan, bukan karena ajakan orang dan bukan karena ikut-ikutan. Saya memang dulu pernah ke kantor Daai TV di mangga Dua kalau tidak salah sewaktu masih bekerja sebagai sales representative selepas kuliah pada kurun waktu 2012 - 2014. Selepas ke kantor DAAI TV tersebut saya sempat terpikir untuk mendaftar menjadi relawan, tetapi karena pekerjaan yang cukup menyita waktu, maka niat menjadi relawan itu mulai terlupa dalam diri saya. Itulah awal mula saya pertama kali ke yayasan Buddha Tzu Chi, tentu sebelumnya saya sudah sering meneteskan air mata akibat menonton drama Tzu Chi bersama keluarga di rumah. Lalu keinginan menjadi relawan Tzu Chi sebetulnya datang pada saat saya sedang di rumah sakit menjaga mendiang ibu yang sedang terkapar melawan kanker, saya sedang menonton Daai TV yang sedang menyiarkan sebuah iklan donasi untuk Gempa Palu yang terjadi pada tanggal 28 September 2018. Saya melihat banyak orang menggalang donasi untuk palu, dan saya berpikir bahwa saya mau menyumbang ke yayasan Buddha Tzu Chi untuk gempa palu, lalu saya lihat instagram Yayasan Buddha Tzu Chi dan memang donasi sudah mulai digalakkan, dan saya langsung menyumbang melalui transfer rekening ke yayasan untuk donasi bencana alam. Akhirnya sejak saat itu saya mulai searching-searching kembali bagaimana cara menjadi relawan Tzu Chi selepas kepergian ibu tercinta pada bulan awal november 2018 dan sempat berniat untuk menghubungi kantor yayasan Buddha Tzu Chi kantor penghubung Tangerang - Kantor Pinangsia. Belum sempat saya mengubungi yayasan, saya bertemu seorang relawan Tzu Chi saat mengikuti kegiatan spiritual bersama komunitas OTR di Vihara Namhai Sukabumi pada pertengahan bulan Desember 2018, akhirnya saya berkenalan dengan Sx. Antony Tanoto dan mulai sejak itu Sx. Antony mengabari saya untuk mengikuti kegiatan sosial Tzu Chi dan berkenalan dengan relawan-relawan Tzu Chi lainnya dan kebetulan saya bertemu dengan relawan yang kebanyakan usianya sudah sepuh hehe, saya sangat menghormati mereka seperti saya menghormat kepada orang tua saya. Saya mulai mengikuti Volunteer gathering, ikut baksos pengobatan, ikut kegiatan donor darah sebagai relawan pembantu, lalu ikut sosialisasi 2 jam dan sampai akhirnya saya mengikuti pelatihan abu putih untuk dikukuhkan menjadi relawan abu putih pada tanggal 28 Mei 2019 lalu.

Semoga setelah saya mengikuti pelatihan abu putih tersebut membuat saya semakin bersemangat menjadi relawan Tzu Chi dan dapat menjalankan kewajiban sebagai relawan dengan sebaik-baiknya. Semoga saya dapat lebih aktif mengikuti kegiatan Tzu Chi. Relawan adalah seorang yang bersukarela dari hati untuk menolong orang lain, semoga saya tidak lupa tujuan saya untuk menjadi relawan, untuk membagikan kebahagiaan, untuk mengikis penderitaan orang yang ditolong. Saya jadi teringat kata-kata dari lao shi yang mengajarkan budaya humanis saat pelatihan, yaitu bahwa insan Tzu Chi adalah orang yang memberikan kebahagiaan, mencabut penderitaan, dan kita harus Gan En kepada Gan En Fu. Gan En Fu adalah orang yang menerima bantuan dan mau menerima bantuan, maka itu kita harus berterima kasih kepada Gan En Fu, karena telah diberikan kesempatan untuk berbuat baik dan bantuan kita diterima olehnya.

Jadi inilah sekilas cerita saya saat mengkuti pelatihan Abu Putih di Yayasan Buddha Tzu Chi Pusat, cerita ini saya buat hanya sebagai pengingat bagi diri saya kelak untuk tidak lupa diri, untuk dapat menjaga diri, menjaga pikiran, ucapan dan perbuatan, menjaga budaya humanis agar tetap tertanam pada diri saya (Bersyukur, Menghormati, Mencintai), dan selalu mengingat bahwa saya adalah relawan, entah sebagai relawan Tzu Chi atau relawan lainnya untuk dapat membantu dengan sebaik-baiknya, dengan tulus, dengan penuh cinta kasih dan welas asih.
Bersama teman-teman relawan Tzu Chi dari Tangerang


sebagai penutup, inilah beberapa kata perenungan dari master Cheng Yen

"Perasaan bersyukur harus ditunjukkan dalam tindakan nyata"

"Segala perbuatan harus dimulai dari sebuah tekad, bagaikan menanam sebatang pohon yang berawal dari sebutir benih"

"Seseorang harus menyalakan pelita di dalam hatinya sendiri terlebih dahulu, baru dapat menyalakan pelita di dalam hati orang lain"



Jiayou ! Gan En
Semoga semua makhluk berbahagia

Kurnia Yosep Cahyadi

Senin, 29 April 2019

Ikut Volunteer Gathering Pita Kuning

halo teman-teman, kali ini aku ingin membagikan sedikit cerita loh, ceritanya begini jadi pada tanggal 27 April 2019 lalu aku mengikuti sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (YPKAI), kegiatan tersebut bernama Volunteer Gathering Pita Kuning, yaitu yang bertujuan sebagai pertemuan para Volunteer atau relawan pendampingan / asuhan paliatif kanker dibawah naungan YPKAI. Aku sendiri mulai bertugas sebagai relawan sejak 21 Juni 2017 (Batch 5) dan hingga sekarang aku sedang mendampingi anak Pita Kuning yang ke-3, yaitu Yoga Rivaldi untuk periode Maret - Juni 2019.

Nah untuk event yang kali ini adalah keikutsertaanku yang pertama kali pada volunteer gathering, makanya ini hal yang menurutku spesial untuk ditulis kedalam blog. Volunteer Gathering mulai dari pukul 10.00, tetapi aku baru datang sekitar pukul 11.00, karena paginya aku masih harus membereskan urusan pekerjaan yang belum selesai. Tempat pelaksanaan volunteer gathering juga lumayan memakan waktu, yakni sekitar 1 jam menggunakan motor dari Tangerang menuju RPTRA Borobudur yang berada di kawasan menteng, tepatnya bersebelahan dengan kampus pascasarjana Universitas Pancasila. Sepanjang perjalanan dari Tangerang menuju Grogol aku dihampiri dengan kemacetan, padahal itu hari sabtu loh, dan sesampainya di kawasan menteng aku mataku mulai tertegun hehe, karena banyak gedung-gedung besar megah mengelilingi jalanan ibu kota terlebih pada saat melewati Stasiun Cikini yang bangunannya lumayan kuno.

Akhirnya aku tiba juga di RPTRA Borobudur tempat dilaksanakannya volunteer gathering Pita Kuning, sampai disana aku mengisi absen dan langsung duduk di bagian depan (karena hanya itu yang masih kosong hehe) untuk mendengarkan presentasi dari kak Devita, koordinator relawan. Banyak yang kuserap dari presentasi tersebut terutama mengenai sistem manajemen kerelawanan di Pita Kuning. Selesai presentasi kami langsung dibagi kelompok sesuai dengan anak dampingan dan kakak peksos (pekerja sosial). Saya dan beberapa teman yang lain memiliki satu peksos yang sama tetapi berbeda adik dampingan, dan kami saling sharing mengenai cerita saat pendampingan, mulai dari kegiatan yang dilakukan, kondisi anak dampingan, kondisi ekonomi keluarga anak dampingan, hal-hal yang menyenangkan dan menggagumkan mengenai perjuangan dan kedewasaan si anak dampingan dalam menghadapi penyakitnya sampai dengan cerita yang membuat berlinang air mata, yakni kematian anak dampingan. 

Selesai kami berbincang  untuk saling bertukar pikiran dengan kak rizki (peksos) dan makan siang, lalu tiba saat yang paling menarik, tak terlupakan, mengesankan dan membekas di hati, yakni kami diajak bermain dengan Komunitas TGR atau yang disebut Traditional Games Return. Apakah itu TGR, yaitu sebuah komunitas yang berusaha untuk membangkitkan kembali mainan-mainan tradisional Indonesia. Awalnya kami mulai diajak bermain yang melatih keseimbangan kerja otak kiri dan kanan, diajak mengulang kata-kata dan memaikan kode-kode gerakan yang membuat banyak dari kami kebingungan karena tidak sinkron.


Kemudian kami diajak bermain mainan tradisional seperti balap karung, jalan bakiak, gasing tradisional, main engklek, enggrang batok, catur jawa, congklak, dan yang paling menarik menurutku adalah Rangku Alu atau Tari Tongkat, dimana permainan tersebut dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama bertugas untuk memainkan bambu dan bernyanyi lagu-lagu tradisional dan kelompok kedua bertugas untuk menari sembari menghindari jepitan bambu dan penari akan masuk dalam bidang persegi dan melompat-lompat sesuai irama buka tutup bambu. 

Rangku Alu (Tari Tongkat)
Senangnya main mainan tradisional
Gasing Bambu
Main Congklak
Jalan Bakiak
Catur Jawa (Baru tahu kan kalo Indonesia punya permainan catur sendiri)

Gimana, serukan bermain permainan tradisional !, TGR juga punya slogan loh, yaitu "Lupakan Gadgetmu, Ayo main di luar", jika kalian mau lebih tahu tentang permainan tradisional, kalian bisa follow IG dari TGR, yaitu di @tgrcampaign dan membeli mainan tradisional tersebut di @tgrstore.id. Selesai bermain tradisional ini juga jadi pelajaran buat kami yang hadir pada waktu itu, bahwa untuk sejenak kami melupakan gadget kami dan bermain permainan tradisional untuk mengingat-ingat masa kecil kami, saya juga teringat kalo dulu waktu sd pernah bermain benteng-bentengan bersama teman-teman dan waktu itu memang belum ada gadget jadi kami pastinya harus main diluar bersama teman-teman. Memang berbeda sekali di jaman yang serba modern saat ini kita lihat anak-anak yang masih balita sudah mengenal gadget dan kalau tidak diberi gadget bisa ada yang menangis. Sungguh ironis sebetulnya dengan mudahnya orang tua memberikan anaknya gadget ketika tidak mau makan atau hanya sekedar untuk mendiamkan anaknya, namun tidak diberikan pendidikan sosial dan karakter yang bisa didapat dari permainan tradisional ini. Menurut saya permainan tradisional melatih kita untuk mau tidak mau tidak menjadi pribadi yang JAIM hehe atau alias antipati terhadap sosial, ya dalam permainan tradisional kita harus berkomunikasi dan berkerja sama agar permainan bisa menjadi suatu permainan yang menarik untuk dimainkan. Permainan tradisional mengajarkan kita untuk berani bersosialisasi, melatih kecerdasan berpikir yang tentunya bagi anak usia dini sangat penting, dan yang paling penting dari permainan tradisional itu adalah adanya "PENDIDIKAN KARAKTER", karena anak dapat bisa lebih menyatu dengan alam dan bertemu dengan teman-teman baru secara "NYATA", hal itu menurut saya bisa memberikan karakter saling menghargai dan menghormati orang lain,  mengembangkan empati, sadar dan taat pada peraturan, kedisiplinan, kemampuan anak menyesuaikan diri ditengah pergaulan, dan terutama permainan tradisional dapat membantu untuk mengontrol emosi dan kepekaan sosial si anak. Lain halnya apabila si anak hanya menghabiskan waktu bermain dengan gadget sepanjang hari, disana tidak ada interaksi sosial sehingga bisa menumbuhkan sikap antipati kepada si anak atau sikap acuh tak acuh / masa bodoh, dia mungkin bisa menjadi orang yang pintar secara intelegensi (IQ), namun tidak pandai dalam hal kecerdasan emosi (EQ). Dan justru berdasarkan penelitian dari para psikolog bahwa IQ hanya berperan 10 % dan paling banyak 25 % sebagai penentu kesuksesan seseorang, sisanya tergantung faktor lain, termasuk EQ.



PILIH YANG MANA ?
GADGET VS PERMAINAN TRADISIONAL

JAWABANNYA : HARUS DIIMBANGI



Tentu di zaman yang sudah maju tidak mungkin kita bisa lepas dari yang namanya gadget, bahkan anak-anak kecil balita sudah bisa menggunakan gadget dengan mudahnya, tetapi harusnya permainan tradisional itu pun jangan ditinggalkan, karena permainan tradisional dapat membentuk karakter  dan perilaku yang sudah diuraikan diatas.

Jadi itulah sekilas cerita saya pada hari sabtu pagi hingga menjelang sore, yaitu mendapatkan pelatihan kerelawanan dan bermain permainan tradisional yang menyenangkan. Teman-teman yang ingin menjadi relawan pendampingan anak kanker, jangan ragu untuk segera mendaftar di bach berikutnya, kalian tentu harus mengikuti training relawan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai palliative care dan kanker agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Segera daftar ya di pitakuning.or.id atau bisa mencari informasinya di indorelawan.org. Menjadi relawan adalah berusaha untuk hidup sebaik-baiknya, berusaha untuk menjadi manusia sesungguhnya, berusaha untuk mengembangkan cinta kasih pada diri kita dan sesama, dan tentunya menjadi relawan adalah suatu berkah karena bisa bersumbangsih baik melalui nilai material maupun immaterial.
Volunteer Gathering Pita Kuning - 27 April 2019
BATCH 1 - 10

Senangnya dapat berbagi, karena dengan berbagi, hidup ini penuh dengan cinta kasih


Kurnia Yosep Cahyadi


nb : foto bersumber dari komunitas Traditional Games Return (TGR) dan google.com.








Kamis, 25 April 2019

Kesehatan Jasmani dan Kecencerungan Kriminal

Kesehatan Jasmani dan Kecenderungan Kriminal 
dikutip dalam buku "Bagaimana Mengatasi Kesulitan Anda"
Karangan Ven.K.Sri Dhammananda

Pada kesempatan kali ini ada suatu tulisan dalam buku yang menurut saya menarik untuk dibahas, buku tersebut berjudul "Bagaimana Mengatasi Kesulitan Anda" karangan Ven.K.sri Dhammananda yang salah satu topiknya berjudul "Kesehatan Jasmani dan Kecenderungan Kriminal" (Hal.7). Topik yang sederhana ini hanyalah mengenai kesehatan batin, tapi memiliki pengaruh yang besar terhadap seluruh aspek kehidupan, silahkan disimak dibawah ini artikel singkat namun menarik untuk dipahami :


Dalam hubungannya dengan kesehatan, yang paling mengkhawatirkan di antara berbagai macam penyakit di zaman sekarang ini bukanlah TBC ataupun kanker. Saat ini TBC hampir tidak menjadi masalah dan mungkin tidak lama lagi ada harapan untuk menyelamatkan penyakit kanker. Yang mengkhawatirkan pada zaman sekarang ini adalah meningkatnya jumlah penderita yang disebabkan oleh ketegangan jiwa (gangguan kejiawaan).



Sehingga kita dipaksa untuk membuat lebih banyak rumah sakit dan lembaga - lembaga untuk para penderita gangguan kejiwaan dan berbagai macam gangguan saraf. Masih banyak lagi orang yang tidak menerima pengobatan walaupun sesungguhnya sangat membutuhkannya.

Hal itu mungkin dapat menjelaskan mengapa unsur kejahatan di dalam masyarakat disebutkan sebagai penderita gangguan jiwa. salah satu hasil yang telah dicapai sejauh ini berdasarkan hasil penyelidikan Freud adalah diketahuinya bahwa para pelaku kejahatan dan kenakalan merupakan orang - orang yang sakit jiwa, mereka lebih membutuhkan perawatan daripada sekedar hukuman. Hal ini merupakan pandangan secara terpisah pada persoalan kemasyarakatan yang maju dan membuka jalan untuk memperbaikinya, bukannya malah membalas dendam.



Video diatas bisa sebagai pelengkap bahwa sesungguhnya orang-orang yang memiliki gangguan jiwa itu bukan harus dijauhi, justru malah sebaliknya, kita harus memiliki empati kepada mereka karena adanya metta atau cinta kasih kepada semua makhluk hidup. Justru ketika kita melihat orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan jiwa, seperti stress atau depresi, harusnya orang tersebut diberikan dukungan dan pengertian tetapi bukan dijauhi. Karena gangguan jiwa yang berkepanjangan dapat memungkinkan adanya kecenderungan tindak kriminal (berdasarkan penelitian). Harusnya kita merasa iba atau kasihan, jika melihat teman kita melakukan tindak kejahatan atau misalkan saja melakukan pelanggaran pancasila Buddhis, karena adanya hukum alam atau hukum karma yang akan diterimanya dari perbuatan buruk itu. 

Maka itu jika kita melihat adanya tindakan-tindaka buruk atau bersifat kejahatan, bukan dilawan dengan kebencian, bukan ingin menghancurkan, bukan ingin melenyapkan, tetapi berusaha untuk memperbaiki mereka dengan kasih sayang (Bhante Pannavaro).



Semoga artikel diatas bermanfaat, masih banyak topik-topik yang akan dipublish dari buku "Bagaimana Mengatasi Kesulitan Anda" oleh Ven.K.Sri Dhammananda terbitan Yayasan Dhammadipa Arama.

sabbe satta bhavantu sukhitatta
"Semoga Semua Makhluk Berbahagia"

Mettacitena

Upasaka Kurnia Yosep Cahyadi "Candavamso"

Rabu, 17 April 2019

Membudayakan Demokrasi yang Dewasa "Secercah Pandangan"

17 April 2019

17 April 2019 merupakan pesta demokrasi terbesar di Indonesia. Sebagai seorang warga negara yang baik tentunya kita dituntut untuk menggunakan hak pilih kita secara bijaksana. Kita tentu memiliki pilihan yang berbeda-beda, sebab tentu pemahaman dan pengetahuan yang kita miliki terhadap calon-calon pemimpin bangsa juga berbeda-beda, tidak ada yang sama persis. Para calon pemimpin bangsa tentu merupakan kader-kader dari partai yang berkiprah di dunia legislatif pemerintahan. Mereka memiliki segudang gelar pendidikan yang mudah-mudahan ilmu pengetahuannya bisa diaplikasikan untuk kemajuan bangsa.

Saya menulis secercah pandangan ini pada pukul 15.30 pada saat perhitungan quick count pemilihan presiden. Dengan bersifat netral tanpa berpihak pada salah satu pasangan, kita selayaknya mendukung siapapun yang nantinya terpilih untuk memimpin bangsa ini. Indonesia sudah selayaknya berdemokrasi secara dewasa. Pada mimbar agama Buddha yang disiarkan TVRI 20 Maret 2019, Bhikkhu Saccadhammo, Padesanayaka NTT, menyampaikan bahwa Pemilu adalah pesta demokrasi, pesta gembira dimana masing - masing warga negara mengekspresikan haknya dalam kegembiraan dengan memberikan suaranya untuk turut serta menentukan arah dan masa depan bangsanya. Kegembiraan ini kegembiraan yang dewasa, yang bermartabat, yang mengedepankan cara-cara damai dalam rangka membangun peradaban tertib dan harmonis dalam perbedaan, bukan kegembiraan semu yang mengacaukan, merusak tatanan adab yang merugikan orang lain atau kelompok lain, apalagi merusak martabat bangsa. Pemilu adalah kegembiraan yang dewasa. Yang bertujuan baik untuk membangun keadilan sosial, kesejahteraan, keharmonisan dan kedamaian bernegara bahkan dunia.

Seperti yang bhante Saccadhammo utarakan, bahwa kita sepatutnya bergembira menyambut pesta demokrasi ini secara dewasa, tanpa isu-isu hoax yang saling menuding yang dapat membuat perpecahan bangsa ini. Indonesia harus menjadi bangsa yang lebih beradab, meskipun saya masih melihat adanya pemberitaan mengenai money politics atau politik uang dikalangan masyarakat khusunya kelas menengah kebawah yang menurut saya itu tidak mencerdaskan bangsa dan malah membodohi para generasi muda yang kedepannya menjadi tulang punggung bangsa ini.

Bagi saya siapapun yang terpilih, tidak menjadi persoalan, karena seharusnya apabila bangsa ini sudah menyelenggarakan pemilu yang beradab, pemilu yang jujur, pemilu yang adil, pemilu yang berlandaskan sifat-sifat kenegarawan, yaitu saling menghormati dan menghargai, sesunggunya kita semua sudah menjadi pemenang. Menang dari ego kita yang ingin menguasai amanat masyarakat hanya demi kepentingan ambisi individu. Kita sebagai warna negara sudah menjalankan kewajiban kita untuk memilih dan tidak menjadi golput, sekarang tugas kita adalah menjaga batin kita agar tidak terpancing oleh isu-isu negatif yang kita peroleh dari media informasi digital dan tidak berusaha untuk menyebar isu-isu negatif tersebut yang bisa diklasifikasikan sebagai berita yang belum valid. Indonesia adalah negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara, maka sudah sepatutnya kita Warga Negaranya sadar dan mengikuti jalannya Pemilu dengan tertib dan tidak terpancing oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya.

Indonesia masih berjuang untuk memberantas kemiskinan, Indonesia masih berjuang untuk menyalakan lampu dan menyediakan air seluruh desa dari sabang sampai merauke, Indonesia masih berusaha untuk meningkatkan angka literasi, Indonesia masih berusaha untuk menurunkan tingkat kematian ibu dan balita, untuk itu pemilu ini sangatlah vital untuk menentukan kemajuan suatu bangsa, dan kemajuan suatu bangsa tentu dimulai dari keberadaban warga negaranya. Semoga para pemimpin bangsa kelak dapat menjadi pemimpin yang beradab, bersahaja dan bijaksana dalam memimpin bangsa Indonesia.

Sadhu sadhu sadhu




Perubahan Hidup

Hidup terus berubah, sadar atau tidak disadari, ingin atau tidak diinginkan, harap atau tidak diharapkan....Hidup terus berlanjut, hidup terus berputar, seiring dengan hukum perubahan yang mengaturnya. Aku yang dulu tentu berbeda dengan aku yang sekarang. sederhananya jika dilihat secara biologis saja sudah pasti ada perbedaan. Itulah perubahan hidup yang sederhana, ada lagi perubahan yang jauh lebih bermakna selain melihat tumbuh kembangnya tubuh ini adalah perubahan sikap mental dan spiritual yang menopang batin ini agar terbebas dari penderitaan. Sejatinya manusia selalu menginginkan yang indah-indah, yang enak-enak, tidak menginginkan kesedihan datang dan malah berusaha menutupi perubahan kehidupan yang berkonteks negatif dengan kesenangan duniawi. Kamaraga atau nafsu indrawi menghampirinya tiada henti dan tidak mau bertemu dengan yang menderita atau Dukkha. Sesungguhnya jika kita berlaku seperti itu sebelum penderitaan datang, sebetulnya kita sudah menderita.

Bhante Sri Pannavaro pernah mengatakan bahwa untuk menutupi atau menghapus penderitaan bukan menambalnya dengan kesenangan atau kebahagiaan, namun dengan kita mengurangi penderitaan sedikit demi sedikit, maka kebahagiaan sejatinya akan datang karena pupusnya penderitaan itu. Kebahagiaan itu tidaklah kekal, kita harus mencari tahu akar penderitaan itu dan bukan memupuk akar itu dengan pupuk kebahagiaan yang akan terus berkeliaran dalam lubang samsara, tetapi pupuklah akar itu dengan pengertian yang benar. Dengan pengertian yang benar akan muncul Panna atau kebijaksanaan, dan apabila juga ditopang dengan pelaksanaan sila yang baik, maka penderitaan itu akan dengan sendirinya lenyap tanpa harus diminta.

Dalam Dhammapada ayat 277 - 279 yang saya renungi setiap saat, sejak ditinggal oleh mendiang ibu dan ayah, ini membuat saya semakin berusaha untuk memahami dhamma dengan sebaik-baiknya, saya tentunya tidak ingin membuat sia-sia telah dibesarkan oleh ayah dan ibu.

Semua yang merupakan perpaduan unsur tidaklah kekal
Orang yang memakluminya melalui kebijaksanaan,
Dia dapat mengatasi penderitaan
Inilah jalan menuju kemurnian sejati.

Semua yang merupakan perpaduan unsur tidaklah memuaskan.
Orang yang memakluminya melalui kebijaksanaan,
Dia dapat mengatasi penderitaan
Inilah jalan menuju kemurnian sejati.

Semua yang merupakan perpaduan unsur tak mempunyai diri.
Orang yang memakluminya melalui kebijaksanaan,
Dia dapat mengatasi penderitaan
Inilah jalan menuju kemurnian sejati.

dalam bahasa pali :

"Sabbe sankhara anicca" ti
yada pannaya
1 passati
atha nibbindati dukkhe
esa maggo visuddhiya.
"Sabbe sankhara dukkha" ti
yada pannaya passati
atha nibbindati dukkhe
esa maggo visuddhiya.
"Sabbe sankhara anatta" ti
yada pannaya passati
atha nibbindati dukkhe
esa maggo visuddhiya.

Dhammapada (Maggavaggo ayat 277,278,279)

Jikalau kita memahami ayat-ayat dhammapada diatas mengenai Anicca, Dukkha, Anatta dengan pengertian yang benar, maka seharusnya kita tidak lagi diperbudak atau diperbodoh oleh batin yang terus berkeliaran kesana-kemari, ingin ini dan itu, kecewa karena tidak mendapatkan, bersedih karena kehilangan, benci karena dilukai atau ditipu, karena hal tersebut merupakan bagian dari Attha Loka Dhamma atau fakta / realita kehidupan yang harus dipahami.

Tulisan diatas ini merupakan rangkuman dari artikel-artikel dhamma yang saya dapatkan, juga pencerahan setelah kebaktian hari minggu kemarin di Vihara Dharma Subha yang dihadiri oleh YM, Bhante Upasanto.

Semoga setelah kita memahami attha loka dhamma atau delapan kondisi yang tak terpisahkan dari kehidupan ini (untung/rugi, kemasyuran/nama buruk, dipuji/dihina, suka dan duka), maka seharusnya manusia tidak lagi memberi makan batinnya dengan segala macam bentuk kesenangan, karena sesungguhnya kesenangan itu akan pudar seiring berjalannya waktu. Kesenangan yang menimbulkan perasaan bahagia itu tentu boleh-boleh saja, asal dilandasi dengan pengertian yang benar. Ada suatu ketika saya menghadiri atau istilahnya melayat ke rumah duka seorang sodara dari tetangga, saya ikut puja bakti perkabungan dan saya melihat pihak keluarga khususnya dari istri suami tersebut sangat bersedih dan terlihat tidak bisa menerima kematian sang suami, begitu juga dengan ayah dari mendiang Ilham hadiwinata, anak penyandang kanker darah yang saya dampingi ketika sebagai relawan paliatif kanker, lagi-lagi saya melihat kesedihan dan berlinangnya air mata si bapak yang tiada henti-hentinya, hal tersebut terjadi karena mereka semua tidak bisa menerima realita hidup yang sesunggunya terjadi pada kita semua. Saya tahu kesedihan mereka begitu mendalam, karena ketika ibu saya meninggal, kesedihan pun menimpa diri saya begitu berat dan perasaan bersalah tak kunjung hilang begitu saja. Tapi kemudian saya berlatih bermeditasi, mulai rajin pergi kebaktian mendengarkan dhamma dan terlebih mulai sering membaca buku-buku dhamma peninggalan mendiang ayah saya. Saya mulai menyadari bahwa kesedihan itu akan muncul seiring kita tidak dapat menerima dan memahami perubahan hidup, karena segala bentuk penyesalan itu tiada guna, meratapi yang sudah berpisah pun tiada arti, teruslah melangkah untuk menuju kebahagiaan sejati. 

Perubahan hidup itu sejatinya berat, yang diatas tentu janganlah tinggi hati, yang dibawah tentu janganlah rendah diri, karena dunia terus berputar. Ada kala kita diatas, tapi tetaplah tegar ketika perubahan itu menghampiri kita, dan ada kalanya yang dibawah bisa mendapatkan keadaan yang lebih baik, tentu janganlah sombong dan tinggi hati. Sinkronisasi dan sinergi antara semua makhluk sejatinya dibutuhkan untuk membuat dunia ini lebih damai. Tentu Dhamma adalah penuntun jalan saya, obat dari bentuk penderitaan dan samsara di dunia ini. Semoga kita semua dapat menjalankan sila dengan baik bagi yang beragama Buddha, bagi yang tidak beragama Buddha, tentu semua agama mengajarkan kebaikan, yaitu menciptakan cinta kasih yang universal...karena dengan cinta kasih, kehidupan akan menjadi tenteram.

Sadhu sadhu sadhu

17 April 2019

Kurnia Yosep Cahyadi
"AKU INSAN BIASA"

Entri yang Diunggulkan

Kesehatan Jasmani dan Kecencerungan Kriminal

Kesehatan Jasmani dan Kecenderungan Kriminal  dikutip dalam buku "Bagaimana Mengatasi Kesulitan Anda" Karangan Ven.K.Sri Dham...